Kompas.com - 28/02/2021, 16:59 WIB
Foto dirilis Senin (2/11/2020), memperlihatkan petani berbincang sambil memandangi tumpukan garam yang baru dipanen di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur. ANTARA FOTO/SAIFUL BAHRIFoto dirilis Senin (2/11/2020), memperlihatkan petani berbincang sambil memandangi tumpukan garam yang baru dipanen di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur.
|

KOMPAS.com - Sebagian warga pesisir di Indonesia mendapatkan penghasilan dari memproduksi garam. Garam dibuat dengan menampung air laut kemudian diuapkan dengan sinar matahari. Sehingga tersisa kristal-kristal garamnya saja.

Produsen garam lokal masih membuat garam secara tradisional dengan mengalirkan air laut ke dalam tambak-tambak dibantu kincir angin.

Meski sejumlah kota di Indonesia menjadi produsen garam cukup besar tapi terkadang ada salah satu faktor yang belum terpenuhi. Yaitu masalah kualitas kontrol agar bisa memenuhi kebutuhan dunia industri.

Untuk meningkatkan kualitas garam dan membantu meningkatkan produksi petani garam lebih baik lagi, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mempunyai inovasi Smart House Salt Maker dengan tenaga surya yang bernama SHASA.

Baca juga: Berikut Rincian Biaya Kuliah Jalur Mandiri dan Kemitraan di ITS

Gagasan SHASA membantu petani garam

SHASA atau Smart House Salt Maker Tenaga Solar Cell ini digagas oleh Muhammad Arif Billah. Dengan gagasannya ini ia ingin mendorong swasembada garam nasional berkelanjutan di Wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Menurut Arif, adanya pandemi Covid-19 ini berpengaruh di berbagai bidang. Termasuk sektor industri garam. Ditambah faktor cuaca juga turut berpengaruh terhadap jumlah garam yang dihasilkan.

Tak hanya menimbulkan lesunya harga garam, kondisi ini juga membuat para petani, khususnya di daerah Banyuwangi, kesulitan dalam proses produksi.

Baca juga: Jangan Kaget! Ini Rincian Biaya SPI Masuk ITS Jalur Mandiri

Dari permasalahan ini, Arif tertarik untuk membuat sebuah sistem tambak yang dapat memproduksi garam secara otomatis tanpa terpengaruh oleh cuaca. Sistem buatannya ini kemudian diberi nama SHASA.

"SHASA ini merupakan rumah garam yang berbentuk setengah lingkaran dan di bawahnya terdapat kolam garam dan lampu pemanas," terang Arif seperti dikutip dari laman its.ac.id, Minggu (28/2/2021).

Produksi garam tak terpengaruh cuaca

Arif mengungkapkan, lampu pemanas tersebut dikontrol menggunakan arduino dan sensor berfungsi untuk memanaskan air laut yang masuk ke dalam rumah garam.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X