Program Inklusi Perpusnas Didorong Jadi Daya Ungkit Ekonomi Masyarakat

Kompas.com - 14/12/2020, 20:28 WIB
Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando saat menjelaskan secara daring program inklusi dan transformasi Perpusnas (14/12/2020). DOK. PERPUSNASKepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando saat menjelaskan secara daring program inklusi dan transformasi Perpusnas (14/12/2020).

KOMPAS.com - Perpustakaan Nasional didorong tidak hanya menguatkan literasi baca namun juga menjadi motor penggerak masyarakat dalam membangkitkan kembali ekonomi, terutama di masa pandemi ini.

Ke depan layanan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) berbasis inklusi sosial akan masuk dalam ranah aktivitas transformasi pengetahuan (transfer knowledge), seperti pelatihan, tutorial, dan pendampingan kegiatan bernilai ekonomis dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

"Ilmu-ilmu yang ada di perpustakaan kami bagikan kepada masyarakat luas, termasuk masyarakat yang termajinalkan yang selama ini merasa tak lagi mendapat hak pendidikan karena masalah sosial dan ekonominya," ujar Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando melalui rilis resmi, Senin (14/12/2020).

Ia mengatakan program ini merupakan konsep revolusioner yang kini dimainkan perpustakaan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing.

Baca juga: Ditjen Dikti dan Maarif Institute Kerja Sama Tingkatkan Literasi Pendidikan Tinggi

Transformasi Perpusnas

Lebih jauh Syarif menjelaskan Perpusnas akan memberikan pendampingan pilihan ekonomi masyarakat yang dikehendaki. Pihaknya lalu akan mencarikan informasi agar bisa dipraktekkan hingga mampu mendongkrak usaha mikro sekelas home industry.

"Mereka bisa bangkit dengan mengembangkan usaha sendiri. Jadi kita ajari yang tak sekedar baca, tapi bisa bertransformasi dan membuka usaha. Misal, baik itu mulai suplier ikan lele, bebek, pengolahan kopi, dan lainnya yang berasal dari alam, maupun buatan," ungkap Syarif Bando.

Menurutnya peran perpustakaan dalam membentuk manusia yang unggul bersumber pada kedalaman pengetahuan yang dimiliki atau literasi. Literasi yang diperoleh dari keaktifan membaca bukan teks namun sudah mampu memahami konteks.

Kualitas intelektual yang dapat dengan mudah menemukan ide-ide, gagasan atau kreativitas ataupun inovasi baru yang berujung pada kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermanfaat bagi khalayak luas.

"SDM yang unggul dan berdaya saing adalah keberhasilan dari produk literasi sehingga seseorang bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dan meminimalisir penggangguran," tegasnya.

Literasi berbasis inklusi

Dalam kesempatan sama, Direktur Agama, Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Amich Alhumami mengatakan program literasi berbasis inklusi sosial yang melibatkan semua kelompok masyarakat atau komunitas berguna bagi yang perekonomian terdampak pandemi covid-19.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.