Kompas.com - 07/11/2020, 20:43 WIB
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto dalam Webinar Praktik Baik Vokasi dan Industri, Senin (10/8/2020). DOK. DIREKTORAT VOKASIDirektur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto dalam Webinar Praktik Baik Vokasi dan Industri, Senin (10/8/2020).

KOMPAS.com - Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Vokasi sedang merintis kerja sama dengan beberapa Atase Dikbud di Eropa dengan tujuan agar siswa SMK maupun pendidikan tinggi vokasi bisa belajar di Eropa.

"Jadi mereka harus bisa mempersiapkan diri dalam segi hard skill maupun soft skill, agar bisa belajar di Eropa," ungkap Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto melansir laman Vokasi Kemdikbud, Sabtu (7/11/2020).

Baca juga: Setahun Jokowi-Maruf: Pendidikan Vokasi Dipacu Lebih Cepat

Jadi, intinya adalah selain lulusan vokasi menjadi pakar di industri, bisa juga menjadi pemimpin industri, dan menjadi entrepreneur di Indonesia.

"Kami juga ingin mengirim lulusan vokasi untuk bisa melanjutkan studi, magang, dan bekerja di luar negeri. Bahkan, mungkin bisa mendirikan atau mengembangkan wirausaha di Indoensia dengan market luar negeri," jelas dia.

Wikan mengaku, fondasi awal bekerjasama dengan beberapa etase Dikbud di Eropa adalah agar bisa mengkombinasikan D-IV di negeri ini dengan S2 terapan di negara-negara Eropa.

Lalu, terkait program pengembangan SMK maupun pendidikan tinggi minimal satu semester ke luar negeri, serta pengembangan program pertukaran mahasiswa dan kerja sama dalam mengundang tenaga pengajar ahli di luar negeri menjadi konsultan pengembang di Indonesia.

Wikan menekankan, memang sangat penting mempersiapkan pendidikan soft skill, agar lulusan sekolah vokasi dapat dengan mudah beradaptasi dan bersaing secara lokal dan internasional di sektor pendidikan maupun industri.

"Dari pengalaman saya sangat membuktikan bahwa soft skill sangat menentuan kesuksesan kita untuk belajar di luar negeri. Dengan soft skill yang kuat, karakter yang hebat, dan pembelajar mandiri, otomatis hard skill nanti akan terbentuk," jelas Wikan.

Sementara, Direktur Mitras DUDI, Ahmad Saufi mengharapkan, dengan menjalin komunikasi bersama atase pendidikan ini dapat menghidangkan menu yang paling cocok dengan kondisi di Indonesia.

"Kemudian kita ubah dan sesuaikan dengan kondisi negara kita yang agraris, maritim, dan sebagainya," tuturnya.

Memang kerjasama pendidikan vokasi dengan negara di Eropa sudah lebih dulu berlangsung, yakni SMKN 2 Subang dan SMKN 5 Jember telah dipilih Atase Dikbud Belanda untuk bekerjasama sekolah vokasi di Belanda.

Begitu juga dengan Perancis yang telah memulai kerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang sangat proaktif dalam mendukung 5 bidang vokasi, yaitu kemaritiman, aeronautika, otomasi, energi terbarukan, dan manajemen logistik.

Wikan menambahkan, bahwa dirinya sangat yakin untuk bisa membentuk mindset lulusan vokasi untuk selalu menghasilkan produk-produk unggulan yang dapat dipasarkan secara global.

Baca juga: Dirjen Vokasi: Saatnya Ubah “Mindset” Petani Pekerja Jadi Petani Entrepreneur

"Kita ingin ini bisa membuat semangat anak-anak vokasi sejak awal, siapkan soft skill, mental, dan bahasa asing mereka karena kita sedang membuka pintu lebih lebar lagi untuk mengirim mereka ke dunia hebat di masa depan," tutup Wikan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X