Setahun Jokowi-Ma'ruf: Pendidikan Vokasi Dipacu Lebih Cepat

Kompas.com - 20/10/2020, 15:37 WIB
Mantan Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wikan Sakarinto dilantik mnejadi Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Sekolah Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Dok. UGMMantan Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wikan Sakarinto dilantik mnejadi Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Sekolah Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

KOMPAS.com - Perjalanan satu tahun pemerintahan Jokowi dan Ma'ruf Amin sangat terasa di dunia pendidikan vokasi.

Pemerintahan telah membentuk Direktorat Jenderal (Dijten) khusus dalam menaungi pendidikan vokasi yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Ditjen Pendidikan Vokasi telah meng-cover Pendidikan Tinggi Vokasi sebanyak 2 ribuan, SMK kurang lebih 14 ribu, serta Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) kurang lebih 17 ribu di seluruh Indonesia," kata Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto kepada Kompas.com, Selasa (20/10/2020).

Baca juga: Dirjen Vokasi: Saatnya Ubah “Mindset” Petani Pekerja Jadi Petani Entrepreneur

Wikan mengaku, pemerintahan saat ini terlihat jelas mendorong kemajuan pendidikan vokasi lewat strategi link and match, antara pendidikan vokasi dengan industri dan dunia kerja ( Iduka). Memang strategi ini sudah lama dicetuskan, tapi program link and match ini telah menjalankan banyak hal.

"Kurikulum disusun berbasis industri, banyak expert industri yang wajib mengajar di SMK maupun kampus vokasi, sertifikasi kompetensi bersama, program magang siswa atau mahasiswa minimal satu semester, dan komitmen penyerapan lulusan," sebut Wikan.

Strategi link and match, bilang dia, tak hanya sekedar membangun gedung atau kelas baru dan membeli peralatan laboraturium. Tetapi sudah mulai mengembangkan mindset dan leadership para Dekan/Direktur Vokasi, dosen-dosen, Kepala Sekolah dan Guru di SMK.

"Jadi sumber daya manusia (SDM) dibangun dulu, setelah itu baru dana pengembangan fisik diluncurkan. Mindset dan keberanian untuk melakukan perubahan dan terobosan baru, serta leadership kuat SDM Vokasi bisa mengeksekusi strategi link and match secara tepat. Itu yang dibutuhkan saat ini," tegas Wikan.

Penguatan soft skill dunia vokasi

Lanjut dia menjelaskan, penguatan soft skill di pendidikan vokasi juga dijalankan, sehingga berimbas positif bagi mahasiswa di dunia kerja.

"Termasuk penciptaan generasi Vokasi yang lahir sebagai entrepreneur berbasis inovasi dan rekayasa teknologi," ungkap Wikan.

Selain itu, penelitian atau riset di pendidikan vokasi juga didorong lebih ke arah menghasilkan produk yang nyata. Sehingga hasil riset itu bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.

"Setelah masuk ke pasar risetnya, lalu bisa dimanfaatkan masyarakat. Dan inilah basis kekuatan bagi kewirausahaan vokasi, melahirkan banyak wirausaha hebat," jelas Wikan.

Dia menambahkan, pada prinsipnya pengembangan pendidikan vokasi telah melahirkan lulusan yang kompeten dan kuat di mata Iduka. Bahkan, seluruh sivitas pendidikan vokasi se-Indonesia telah merasakan gairah dan semangat pemerintah dalam membangun pendidikan vokasi.

Baca juga: Bersama INKA dan SMK PGRI Mejayan, PNM Genjot Pendidikan Vokasi

"Kami merasakan ada terobosan-terobosan yang kreatif, agar bisa mengembangkan link and match yang maksimal," pungkas Wikan.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X