Nadiem Tegaskan Mapel Sejarah Tidak Dihapus dari Kurikulum Nasional

Kompas.com - 20/09/2020, 20:07 WIB
Nadiem Makarim dalam Taklimat Media yang disiarkan melalui kanal Youtube Kemendikbud, Jumat (24/7/2020) malam. Tangkapan layar Youtube KemendikbudNadiem Makarim dalam Taklimat Media yang disiarkan melalui kanal Youtube Kemendikbud, Jumat (24/7/2020) malam.

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim menegaskan tidak ada kebijakan, regulasi, atau rencana menghapuskan mata pelajaran Sejarah di kurikulum nasional.

Hal itu ia ditekankan setelah beredar informasi yang menyebutkan mata pelajaran Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah.

Banyak informasi beredar di kalangan akademisi dan guru, Kemendikbud akan menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, bahkan menghilangkannya di SMK.

Baca juga: Sederhanakan Kurikulum, Kemendikbud: Pelajaran Sejarah Tidak Dihapus

Rencana perubahan pendidikan sejarah di SMA/SMK itu tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020. Draf ini kemudian menjadi polemik di khalayak luas.

Berasal dari penyerdehanaan kurikulum

"Saya sangat terkejut mendapati begitu cepatnya informasi yang tidak benar menyebar tentang mata pelajaran Sejarah di tengah masyarakat. Tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran Sejarah di kurikulum nasional," kata Nadiem dalam video klarifikasinya di akun instagram pribadi miliknya, Minggu (20/9/2020).

Nadiem menjelaskan, polemik ini mulai bergulir dari salah satu presentasi internal yang keluar ke masyarakat, terkait penyederhanaan kurikulum. Padahal, papar Nadiem, Kemendikbud memiliki puluhan versi berbeda saat ini yang sedang dibahas di forum discussion group (FGD) dan menjalani uji publik.

"Semuanya belum tentu permutasi tersebut yang menjadi final. Inilah yang namanya pengkajian yang benar, di mana berbagai opsi diperdebatkan secara terbuka," terang Nadiem.

Penyederhanaan kurikulum ini, lanjut Nadiem, tak akan selesai di 2022. Hal itu dikarenakan, kurikulum 2021 saja baru akan melakukan berbagai protoyping di beberapa sekolah penggerak yang terpilih dan bukan diterapkan untuk skala nasional.

"Jadi sekali lagi, tidak ada kebijakan apapun yang keluar di 2021 dalam skala kurikulum nasional, apalagi penghapusan mata pelajaran sejarah," tegas Nadiem yang pernah menjadi orang nomor satu di Gojek Indonesia.

Keluarga dari tokoh perjuangan

Soal sejarah, dia menambahkan, tak perlu dipertanyakan kembali kepada dirinya. Sebab, banyak keluarganya yang memang tokoh perjuangan kemerdekaan 1945.

Baca juga: Mendikbud: Pendidikan Inklusi, Inspirasi Pembelajaran Saat Pandemi

"Kakek Saya adalah salah satu toko pejuang dalam kemerdekaan di 1945. Ayah dan Ibu saya adalah aktivis nasional untuk membela hak asasi rakyat indonesia dan berjuang melawan korupsi. Anak-anak saya tidak akan tahu bagaimana melangkah ke masa depan atau mengetahui dari mana mereka datang," tukas dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X