Kompas.com - 15/09/2020, 09:55 WIB
Para siswa SMP melakukan belajar daring dan proses pembelajaran tanaman hidroponik semasa pandemi corona di Mako Polsek Rajapolah, Polresta Tasikmalaya, Selasa (24/8/2020). KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHAPara siswa SMP melakukan belajar daring dan proses pembelajaran tanaman hidroponik semasa pandemi corona di Mako Polsek Rajapolah, Polresta Tasikmalaya, Selasa (24/8/2020).

KOMPAS.com - Dunia sekolah mengalami perubahan kebiasaan dalam proses pendidikan di masa pandemi Covid-19, baik siswa, guru, maupun orangtua siswa. Bahkan kejadian itu juga menghantam perguruan tinggi di seluruh penjuru Indonesia, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terlihat. Pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka, lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (online) yang dijalankan sekolah maupun perguruan tinggi saat masa pandemi.

Perubahan itu sangat terasa dijalankan, sehingga memberikan suka dan duka di dunia pendidikan Indonesia.

Baca juga: Video Call dengan Jokowi, Ini Curhat Guru soal Kendala Belajar Online

Semua perubahan itu memang telah diatur oleh pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), demi meredam angka penularan Covid-19 di masyarakat.

Pandangan guru

Dari sisi guru, khususnya mereka yang mendekati masa pensiun, pelajaran dengan mekanisme online sangat sulit. Karena, kebanyakan mereka tidak paham dengan ilmu teknologi informasi (IT).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bila tak paham IT, maka jadi kendalanya disitu. Bayangkan secara keseluruhan program pendidikan lewat online, baik memberikan tugas atau paparan pendidikan ke anak-anak, itu yang membuat guru muda maupun tua merasa kesusahan dengan proses online. Apalagi setiap tugas harus dipersiapkan setiap harinya," kata salah satu guru di SLTP Teladan, Rahmawati saat memberikan keluh kesahnya kepada Kompas.com, seperti ditulis Senin (14/9/2020).

Memang, kata Rahmawati, pembelajaran lebih efektif dengan tatap muka. Dengan begitu, para murid bisa bekerja sama dengan temannya, bermain atau berkumpul saat istirahat sekolah, dan bisa bercanda tawa bersama guru sekolah.

Bila belajar online yang saat ini terjadi, sambung Rahmawati, itu banyak membuat siswa bosan dan ditambah kurangnya fasilitas yang ada di rumah untuk belajar sistem online.

"Itu yang kini terjadi, terkait paket pulsa untuk belajar, belum lagi murid atau keluarganya yang tidak memiliki ponsel pintar (smartphone). Jadi terhambat proses belajar dan mengajarnya," tutur wanita kelahiran 1962 ini.

Pandangan siswa

Sementara salah satu siswa di SMA Kartika Sari, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Nida menjelaskan, selama pembelajaran online banyak kendala dihadapi, baik dari sisi kuota paket internet, smartphone dan laptop.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.