Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menghadirkan "Satgas Selamat Sekolah" di Tahun Ajaran Baru Besok

Kompas.com - 12/07/2020, 17:55 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Muhchamad Haris Tarmidi | Fasilitator Program Pintar Tanoto Foundation Kabupaten Kendal

KOMPAS.com - Seperti telah kita ketahui tanggal 13 Juli 2020 ditetapkan sebagai awal tahun ajaran baru oleh pemerintah.

Namun kalau boleh jujur yang menjadi perhatian segenap khalayak bukanlah hal itu melainkan bagaimana pembelajaran akan dilakukan di tengah kekalutan akan adanya pandemi dengan status masih sangat mengkhawatirkan.

Panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) menyebutkan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran.

Karenanya hanya daerah yang berstatus hijau saja yang boleh menyelenggarakan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang sudah di tentukan.

Berangkat dari panduan tersebut, maka didapatlah angka dari satuan gugus tugas penanganan Covid-19 bahwa daerah yang bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka tidak lebih dari 6 persen di seluruh Indonesia.

Pembelajaran-pembelajaran yang akan diterapkan pun mesti memperhitungkan dengan segala kondisi yang di miliki siswa. Karenanya sebagai pendidik kita mesti pandai memilih dan memilah tentang metode belajar yang pas dengan kondisi kelas kita.

Baca juga: Optimalkan Tahun Ajaran Baru, Disdik DKI Luncurkan Siap Belajar Jakarta

Pembelajaran bauran

Model pembelajaran bauran atau lebih di kenal dengan blended learning sekarang ini menjadi semacam kebutuhan di era pandemi yang mendera negeri ini. Metode ini menggabungkan antara versi daring dan versi luring.

Tentu saja terobosan pembelajaran ini bukan sekedar memindahkan versi ceramah dari dunia nyata ke dunia maya. Akan tetapi akan sangat bermanfaat ketika digunakan untuk mendampingi konsep mengalami atau melakukan para siswa sehingga peserta didik tetap dapat melakukan pembelajaran yang aktif dan bermakna.

Contoh penerapan metode pembelajaran ini semisal yang dilakukan Muhchamad Haris Tarmidi, guru kelas VI SDN 1 Puguh, Kabupaten Kendal.

Dia memandu pembelajaran melalui tatap muka menggunakan aplikasi Zoom. Lewat aplikasi ini dijelaskan tentang sistem tata surya pada galaksi Bima Sakti.

Bagaimana deretan planet mengitari matahari dan bulan mengelilingi bumi lengkap dengan simulasi menggunakan benda yang ada di rumah masing-masing yakni senter dan bola-bola kecil.

Dari versi daring melalui Zoom tersebut, kemudian di lanjutkan menggunakan versi luring yakni untuk pengiriman video serta penjelasan lebih lanjut melalui Whatsapp grup.

Siswa melakukan presentasi sistem tata surya di rumah di depan anggota keluarga masing-masing untuk kemudian hasil videonya di kirimkan ke WAG.

"Satgas Selamat Sekolah"

Di atas telah dijabarkan bahwa di seluruh Indonesia kemungkinan baru 6 persen yang diperboleh melakukan pembelajaran secara tatap muka langsung.

Hal ini bukan berarti ketika sekolah yang memberangkatkan siswanya bisa melakukan pembelajaran seperti dulu kala sebelum Covid melanda. Penerapan protokol kesehatan secara ketat tetap diakukan demi keselamatan bersama.

Fungsinya yaitu, berkoordinasi dengan wali siswa tentang kondisi terkini peserta didik dan keluarganya dan memastikan seluruh prosedur kesehatan di jalankan baik di rumah maupun di sekolahan.

Baca juga: Orangtua, Ini Buku Saku Panduan Tahun Ajaran Baru dari Kemendikbud

Selain itu penerapan protokol kesehatan di sekolah juga tidak boleh main-main di jalankannya. Diantara protokol kesehatan yang harus di tindak lanjuti di sekolah yakni:

1. Sekolah harus melaksanakan penyemprotan disenfektan minimal seminggu dua kali.

2. Memastikan bahwa setiap orang yang datang ke sekolahan harus memakai masker serta lolos uji suhu normal.

3. Sekolahan juga harus menyediakan tempat cuci tangan dengan air mengalir di setiap kelas.

4. Setiap kelas hanya boleh di tempati tidak lebih dari 50 persen kapasitas semula.

5. Setiap siswa membawa bekal makanan masing-masing serta di larang bertukar makanan atau alat makan.

Dalam pembelajaran tatap muka langsung, pendidik juga mesti lebih efektif dan selektif dalam pembelajarannya. Guru bisa menggunakan kesempatan tatap muka ini untuk melakukan penguatan materi dan pengayaan.

Penugasan bisa diberikan untuk kemudian dikerjakan di rumah. Serta sebisa mungkin menghindari kontak langsung dengan siswa termasuk juga mencegah interaksi antarsiswa.

Segala jenis pelayanan kepada peserta didik ini dilakukan semata karena memandang bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti hanya karena adanya pagebluk Covid-19.

Zoom, WA, Jitsi, Google Classroom hanyalah alat untuk mempermudah serta mengkreasikan pembelajaran agar lebih efektif dan menarik.

Karenanya jangan sampai kita hanya sekedar berpindah tempat dari ceramah di depan kelas menjadi ceramah di dalam aplikasi.

Kita harus tetap memberikan pembelajaran yang bermakna, pembelajaran yang mengaktifkan segala potensi siswa, serta pembelajaran yang mampu memberikan kecakapan hidup untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com