Rendang dan Ramsay : Bukan Sekedar Belajar Memasak

Kompas.com - 12/07/2020, 17:26 WIB
Ilustrasi rendang daging sapi khas Minang, dimasak sampai berwarna kehitaman. SHUTTERSTOCK/MUGIKUN19Ilustrasi rendang daging sapi khas Minang, dimasak sampai berwarna kehitaman.

KOMPAS.com - Rendang! Dalam keseharian kita boleh jadi tidak ada yang istimewa dari makanan ini. Rendang hanya salah satu pilihan lauk makan siang atau malam.

Walaupun berasal dari Sumatera Barat, rendang dengan mudah didapatkan di hampir setiap sudut negeri. Mulai dari warung pinggir jalan, restoran Padang atau versi fushion-nya di restoran-restoran kekinian.

Rendang sudah menjadi sesuatu yang generik di dunia kuliner Indonesia. Sesuatu yang rutin, tidak ada yang harus dibahas secara khusus dari sepiring nasi dengan lauk rendang.

Bahwa rendang itu lezat luar biasa kita semua setuju, namun hanya sampai itu apresiasi kita terhadap rendang. Tak kurang tak lebih. Kita bahkan tidak terlalu bergeming pada saat stasiun televisi CNN menasbihkan rendang sebagai makanan terlezat di dunia pada tahun 2017.

Itu sudah sebuah kelumrahan. Pun seperti tidak tercubit pada saat Malaysia pernah ‘mengklaim’ kalau rendang berasal dari negeri jiran ini.

Ah, mereka hanya ‘mengklaim’ masakan kita, bukan salah satu dari wilayah territorial kita, mungkin itu pikir sebagian dari kita.

Sampai akhirnya sebuah program tayangan televisi National Geography (NatGeo) yang mulai membuka mata kita tentang arti lain sebuah rendang. Rasanya belum ada acara tentang kuliner yang sangat ditunggu-tunggu seperti tayangan ini.

Adalah Gordon Ramsay, si ahli masak kondang yang menjadi bintangnya, dan lakonnya adalah menelusuri sudut-sudut ranah Minang sekaligus menjajal kepiawaiannya memasak berbagai ikon kuliner Minang seperti rendang.

Baca juga: INFOGRAFIK: Resep dan Cara Membuat Rendang

Seribu cerita

Kita sebatas tahu bahwa rendang adalah masakan yang proses pembuatannya cukup rumit sehingga cita rasa yang dihasilkan sangat unik namun universal, sehingga dapat diterima lidah hampir semua orang di seluruh dunia.

Pembahasan tentang rendang biasanya seputar rendang mana yang paling enak, berbagai ragam masakan rendang seperti rendang ayam, rendang telur. Hanya sebatas itu, rendang sebagai masakan.

Namun tayangan NatGeo kali ini merubah pandangan kita terhadap rendang.

Ada cerita yang lebih besar dan dalam tentang sepiring rendang. Dalam acara ini rendang tidak diangkat dan dibahas hanya sebatas wujudnya sebagai masakan, namun rendang disajikan dalam konteks budaya.

Dalam konteks itulah rendang tiba-tiba jadi dapat berbicara dan bertutur tentang beribu kisah.

Rendang berbicara tentang pentingnya proses dalam mendapatkan hasil terbaik. Bahwa untuk menghasilkan karya unggul setiap tahapan menjadi penting.

Mulai dari tahap mencari bahan baku, mengolahnya dan bahkan menghidangkan dan cara menyantapnya pun menjadi bagian dari rangkaian tersebut.

Daging sapi seperti apa yang paling tepat, cabai jenis apa bahkan sampai dari daerah mana cabai itu berasal merupakan key success factors.

Bahkan jenis batu untuk menggerus semua bumbu itupun menjadi krusial, karena tekstur bumbu hasil gerusan juga menjadi kunci dari kualitas rendang yang dihasilkan. TIdak ada blender secanggih apapun yang dapat menggantikannya.

Rendang juga bertutur tentang bagaimana interaksi budaya dan lingkungan.

Feature tentang Ramsay menjajal tradisi Pacu Jawi (balapan sapi jantan) menggambarkan bagaimana budaya Minang menempatkan sapi dan kerbau bukan saja sebagai objek yang melulu dieksploitasi namun juga mitra dalam menjalani hidup seperti misalnya untuk membajak sawah dan membantu perniagaan sebagai penggerak pedati.

Lebih dalam lagi Pacu Jawi adalah perayaan sebuah rasa syukur. Sebuah tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur setelah masa panen atas berkah dan rejeki yang sudah dilimpahkan.

Inilah Thanksgiving ala Minangkabau! Meriah dan penuh arti.

Baca juga: 4 Fakta Unik Rendang, Pencinta Masakan Padang Harus Tahu

Nilai luhur

Pakar kuliner William Wongso menjadi mentor masak rendang koki kenamaan dunia Gordon Ramsay. Dok. National Geographic Pakar kuliner William Wongso menjadi mentor masak rendang koki kenamaan dunia Gordon Ramsay.

Rendang juga berkisah tentang nilai-nilai luhur lokal. Budaya memasak di kalangan masyarakat Minangkabau mungkin sama dengan budaya membatik di Jawa.

Delapan jam yang diperlukan untuk memasak rendang menyiratkan bahwa nilai-nilai persistensi, dan konsistensi sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Minangkabau.

Proses delapan 8 jam pembuatan rendang seperti hendak mengatakan bahwa budaya bukan sesuatu yang hanya diwariskan oleh para orang tua dan leluhur kita (nature), namun juga harus dijalankan, dilakoni, ditelateni, dirawat (nurture) dan pada akhirnya dijadikan acuan sebuah tatanan hidup.

Merawat dan mewariskan budaya tidak cukup hanya memperkenalkan masakannya saja namun semua proses yang terjadi di belakangnya.

Rendang juga berbicara tentang keterbukaan. Masyarakat Minangkabau sejak lama telah ‘memberikan’ rendang kepada dunia. Rendang sudah diapresiasi para pecinta kuliner di negara-negara lain.

Baca juga: Perbedaan Rendang Minang dan Malaysia, dari Asal-usul sampai Tekstur

 

Tidak ada resep rahasia yang ditutupi.

Mereka tidak melarang apalagi mengharamkan jika rendang dimodifikasi menjadi berbagai ragam kuliner turunannya seperti misalnya burger rendang. Rendang tidak pernah disakralkan.

Sejak dahulu masyarakat Minangkabau adalah masyarakat perantau. Jadi mereka paham betul tentang bagaimana rasanya menjadi pendatang di negeri orang, bagaimana penerimaan dari tuan rumah menjadi penting.

Karenanya, budaya Minangkabau sangat menjunjung tinggi keterbukaan dan sangat mudah berbaur dengan budaya lain. Lihatlah bagaimana Ramsay disambut dengan sangat terhormat di sana.

Keterbukaan 'is their middle name!' Karenanya adalah sebuah keabsurdan jika ada yang menuduh masyarakat Minangkabau adalah masyarakat tertutup.

Spoke person

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X