Kompas.com - 24/04/2020, 20:31 WIB

KOMPAS.com - Praktisi pendidikan Indonesia Yusra Tebe menilai ada sejumlah tantangan di dunia pendidikan Indonesia di tengah wabah pandemi COVID-19.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI per 16 April 2020, sekitar 68,7 juta pelajar terdampak akibat COVID-19.

“Faktanya hampir seluruh sekolah dan madrasah terdampak,” ujar Yusra seperti dikutip dari laman Unpad.

Ada empat dampak yang dirasakan anak akibat pandemi COVID-19. Dampak tersebut yaitu faktor kerentanan kesehatan, pendidikan yang terputus, kurangnya hak bermain dan bersosialisasi, serta perubahan siklus sosial anak merupakan dampak yang timbul.

Anak-anak mulai kecanduan gawai karena banyak kegiatan atau tugas sekolah yang dilakukan lewat gawai, dan akhirnya dipakai kesempatan bermain. Orangtua pun akhirnya kewalahan,” kata Yusra.

Baca juga: 9 Tips untuk Orantua agar Belajar dari Rumah lewat TVRI Berjalan Lancar

Pemberlakuan metode belajar dari rumah sendiri dilanda sejumlah tantangan. Yusra menjelaskan, lebih dari 46.000 atau 18 persen dari total satuan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia belum memiliki fasilitas akses internet.

Bahkan, 8.000 sekolah belum teraliri listrik.

Selain itu, belum terbiasanya siswa melakukan belajar daring atau belajar mandiri, terbatasnya jaringan dan kuota internet, minimnya fasilitas gawai, serta lingkungan belajar yang kurang kondusif juga menjadi tantangan penerapan kebijakan belajar dari rumah.

Yusra mengatakan anak memiliki energi besar dan cenderung lebih dekat bersama teman ketimbang keluarga untuk konteks belajarnya.

Selain itu, kemampuan orangtua dalam mendampingi pembelajaran anak akan berbeda. Saat ini, banyak orangtua yang mulai merasa tertekan saat mendampingi proses belajar anak.

Konsultan pendidikan dalam situasi bencana ini mengutip hasil survei yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

Baca juga: Apa itu Belajar dari Rumah? Melihat Kembali Konsep Awal...

Salah satu hasilnya menyebut bahwa 49 persen anak berpendapat bahwa program belajar dari rumah membebani mereka.

Survei tersebut juga menjelaskan, 49 persen anak menjalankan aktivitas bermedia sosial selama belajar dari rumah. Hanya 22 persen dari responden yang mengerjakan tugas, 13 persen menjalankan hobi, serta 9 persen melakukan aktivitas olahrahga.

Perlu kontribusi semua pihak

Dalam webinar yang dimoderatori Direktur Pendidikan dan Internasionalisasi Unpad Mohammad Fahmi tersebut, ada empat saran yang disampaikan Yusra untuk mendorong peningkatan aktivitas belajar dari rumah.

Yusra menjelaskan, akademisi diharapkan dapat mengembangkan teknologi tepat guna untuk mendukung pembelajaran lebih efektif.

Beragam materi pendidikan diharapkan dapat dikemas dan disampaikan secara menarik dengan memanfaatkan media sosial.

Untuk wilayah yang belum terfasilitasi listrik dan internet, distribusi buku bacaan sangat dianjurkan. Namun, proses distribusi ini tetap sesuai dengan standar protokol pencegahan COVID-19.

“Selain itu, selemah-lemahnya kontribusi kita adalah tidak menyebarkan informasi hoaks dan salah, sehingga tidak menyebabkan kepanikan. Tingkat share informasi yang positif,” kata Yusra.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.