Kompas.com - 06/12/2021, 19:05 WIB

“Bukan barangnya bisa dipakai atau tidak, tapi orang menilai saya seperti itu,” lanjut Drajat.

Tidak ada batasnya

Drajat menegaskan, konsumsi simbolik tidak ada batasnya, karena orang mementingkan pengakuan dari lingkungannya dan terus mengikuti perkembangan yang ada.

“Kalau konsumsi yang biasa produk ada batasnya, jadi kalau saya misalnya perlu jam untuk melihat waktu, cukup saya beli satu jam, satu udah cukup,” tutur dia.

“Tapi kalau simbolik, saya bisa berganti-ganti (barang tertentu) dan saya bisa memakai dengan variasi yang beraneka ragam untuk mendapatkan pengakuan-pengakuan yang lebih,” tambah Drajat.

Menurut Drajat, masyarakat yang semakin hidup dalam realitas-realitas yang penuh dengan media sosial atau digital, membuat kecenderungan untuk konsumsi simbolik akan semakin berkembang dikarenakan dapat ditunjukkan ke orang lain secara luas.

“Karena kemudian bisa direkayasa dan bisa disebarluaskan dalam skala yang luas,” papar dia.

Baca juga: Mengapa Orang Suka Pamer Saldo ATM di Media Sosial? Ini Jawaban Pakar LIPI

Dampak konsumsi simbolik

Drajat menyampaikan, konsumsi simbolik dapat berdampak pada yang bersangkutan dan lingkungannya.

Orang yang mengalami konsumsi simbolik tidak bisa mengendalikan konsumsinya dengan baik.

“Kalau dia terus mengejar simbol padahal simbol itu diciptakan oleh perusahaan yang selalu berubah, akhirnya konsumsinya tak terbatas atau over consumption, konsumsi yang melampaui kemampuan dari daya dukung ekonomi dia sendiri,” papar dia.

Selain itu, orang yang mengalami konsumsi simbolik akan mengejar simbol yang tidak berhenti-henti, bahkan terus-menerus diciptakan mengikuti perkembangan zaman.

“Agak sulit melakukan kontrol terhadap konsumsinya, yang disebut smart consumption itu menjadi sulit karena dia mengejar simbol yang tidak berhenti-berhenti,” kata Drajat.

“Produk terus diciptakan agar orang kemudian membutuhkan, orang kemudian menginginkan, yang ini menjadi masalah disebut over consumption, konsumsi yang melebihi kemampuan dan kebutuhan yang sesungguhnya,” pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.