Virus Corona Disebut Menyebar Melalui Udara, Amankah Beraktivitas Outdoor?

Kompas.com - 12/07/2020, 10:08 WIB
Warga dengan kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan tenaga medis di wilayah Lampulo dan Kuta Alam mengikuti tes swab Covid-19 massal yang dipusatkan di Puskesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (17/6/2020). Tes swab massal yang digelar gratis dan diikuti seratusan orang ini merupakan program Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala dalam upaya menekan penyebaran virus corona. KOMPAS.com/RAJA UMARWarga dengan kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan tenaga medis di wilayah Lampulo dan Kuta Alam mengikuti tes swab Covid-19 massal yang dipusatkan di Puskesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (17/6/2020). Tes swab massal yang digelar gratis dan diikuti seratusan orang ini merupakan program Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala dalam upaya menekan penyebaran virus corona.


KOMPAS.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui adanya potensi penularan virus corona melalui udara pada Kamis (9/7/2020).

Bukti menunjukkan, konsentrasi virus SARS-CoV-2 di udara tetap tinggi selama berjam-jam di udara stagnan, dan dapat menginfeksi seseorang ketika mereka menghirupnya.

Adapun risiko paling tinggi adalah berada di dalam ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.

Baca juga: Indonesia Disebut Masuk Fase Berbahaya, Kapan Pandemi Akan Berakhir?

Meski demikian, amankah beraktivitas di ruang terbuka?

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan aktivitas outdoor atau beraktivitas di ruang terbuka aman dilakukan, asalkan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan.

" Outdoor activities lebih aman namun tetap harus menjaga jarak, memakai masker dan biasakan cuci tangan," ujar DickY saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (11/7/2020).

Ia juga mengatakan, aktivitas outdoor bisa lebih diperbanyak dibandingkan dengan indoor.

Seperti yang telah dijelaskannya di atas, Dicky menekankan mengenai pentingnya penggunaan masker baik saat beraktivitas indoor maupun outdoor.

"Gunakan masker di dalam dan luar ruangan. Kecuali di rumah," ucap dia.

Baca juga: Fakta Baru Kasus Corona di Indonesia, dari Rekor Kasus Baru hingga Jumlah Kasusnya Dekati China

Sementara itu, seorang ahli epidemiologi dan asisten profesor di Harvard Medical School, Julia L. Marcus juga mengatakan hal serupa.

Mengutip New York Times (15/5/2020), Julia mengatakan, berkegiatan di luar ruangan tetap diperlukan. Namun upaya untuk menerapkan risiko pengurangan virus juga harus dilakukan.

“Kita tahu bahwa berada di luar rumah berisiko lebih rendah untuk penularan virus corona daripada berada di dalam ruangan. Di akhir pekan yang cerah dan indah, saya pikir pergi ke luar diindikasikan, tetapi saya juga berpikir ada hal-hal yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko,” ujar Julia.

Baca juga: Desakan WHO, Penyebaran Virus Corona, dan Tingginya Kasus Covid-19 di AS...

Seorang Profesor Kedokteran di Vanderbilt University, William Schaffner mengingatkan, meskipun virus corona lebih berpotensi menular di ruang tertutup, tidak berarti orang-orang bebas untuk berkerumun di tempat terbuka seperti misalnya pantai.

"Virus ini benar-benar menyukai orang-orang yang berada di dalam ruangan di ruang tertutup untuk waktu yang lama dalam kontak dekat," kata William sebagaimana dikutip dari Business Insider (17/5/2020).

Mengutip ABC News (3/7/2020), dibandingkan melakukan pertemuan di dalam ruangan tertutup, melakukan pertemuan dalam jumlah kecil di luar ruangan akan jauh lebih aman.

"Ketika Anda berada di ruangan kecil di dalam ruangan, Anda akhirnya menghirup banyak udara yang tidak diedarkan. Berada di luar ruangan jauh lebih baik daripada di dalam ruangan, di mana jumlah volume udara dibatasi dan resirkulasi sedikit," kata Dr Barun Mathema, Asisten Profesor Epidemiologi dari Universitas Mailman Columbia.

Baca juga: Fakta Baru Kasus Corona di Indonesia, dari Rekor Kasus Baru hingga Jumlah Kasusnya Dekati China

Yang harus dilakukan saat beraktivitas di luar ruangan

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengeluarkan imbauannya terkait yang harus dilakukan saat beraktivitas di luar ruangan.

Melalui akun Twitter-,nya @CDCgov  mengimbau terkait menjaga jarak sejauh 6 kaki (sekitar 1,8 meter) saat beraktivitas di luar ruangan dan selalu mengenakan masker.

Baca juga: Efektifkah Penggunaan Masker Scuba untuk Pencegahan Virus Corona?

Masih dari New York Times, para ahli mengimbau ada baiknya ketika bersosialisasi di luar ruangan sebaiknya dilakukan antara yang tinggal di sekitar lingkungan rumah saja.

Selain itu, ada baiknya ketika memiliki janji bertemu seseorang, maka setiap orang meningkatkan penjagaan dirinya dengan serangkaian tindakan pencegahan.

Seperti menjaga pertemuan tetap dalam lingkup kecil, tak berbagi makanan atau minuman dari tempat yang sama, membersihkan tangan dan menjaga jarak.

"Saya pikir di luar rumah jauh lebih baik daripada di dalam ruangan di hampir semua kasus. Selama Anda tinggal setidaknya enam kaki terpisah, saya pikir risikonya sangat rendah," kata Linsey Marr, seorang Profesor Teknik dan Ilmuwan Aerosol di Virginia Tech.

Baca juga: Kilas Balik Pernyataan WHO soal Penyebaran Virus Corona di Udara: Dulu Dibantah, Kini Diakui

Ia menilai saat berada di luar ruangan maka virus corona lebih berpeluang diencerkan karena adanya angin sepoi-sepoi.

Saat berada di luar ruangan, ada kemungkinan seseorang yang sakit menebarkan virusnya melalui angin, akan tetapi saat itu virus yang menyebar berada dalam jumlah yang jauh lebih kecil untuk menginfeksi seseorang.

Viral load itu penting. Satu virus tidak akan membuat siapa pun sakit; itu akan segera dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Kepercayaannya adalah bahwa seseorang membutuhkan beberapa ratus hingga beberapa ribu virus SARS-CoV-2 untuk membanjiri respons imun, ” kata Eugene Chudnovsky, seorang fisikawan di Lehman College dan Universitas Kota Pusat Pascasarjana New York.

Dr. Chudnovsky, berpendapat pergi saat hari yang cerah lebih baik daripada hari yang mendung, karena ada lebih banyak sinar matahari dan lebih banyak angin untuk mencairkan virus.

Baca juga: Virus Corona Menular Lewat Droplet dan Airborne, Apa Bedanya?

Ia menyarankan saat berada di luar ruangan salah satu upaya pencegahan yang bisa diambil adalah memposisikan diri melawan angin dari orang lain.

"Ini mungkin sangat penting di pantai, di mana orang cenderung menghabiskan waktu lama di satu tempat yang terlokalisasi," katanya.

Imbauan WHO yang diperbarui Kamis (9/7/2020) mengatakan beberaapa upaya pencegahan yang dilakukan untuk menghindari virus di antaranya adalah mengenakan masker kain dalam situasi tertentu misalnya di tempat umum yang berpotensi ada transmisi komunitas dan di mana langkah pencegahan lain seperti jarak fisik tak dimungkinkan.

Selain itu untuk sering-sering melakukan kebersihan tangan karena ada potensi menyentuh prmukaan terkontaminasi.

Juga sebaiknya memastikan ventilasi baik saat di ruang tertutup serta melakukan pembersihan dan desinfeksi lingkungan.

Baca juga: Waspada Gejala Baru Virus Corona, dari Sulit Berbicara hingga Halusinasi

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Macam-macam Penularan Virus Corona

 

 

Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X