Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramai Anjuran Pakai Masker karena Gas Beracun SO2 Menyebar di Kalimantan, Ini Kata BMKG

Kompas.com - 25/04/2024, 11:30 WIB
Yefta Christopherus Asia Sanjaya,
Mahardini Nur Afifah

Tim Redaksi

KOMPAS.com- Unggahan dengan narasi gas beracun SO2 atau sulfur dioskida menyebar di Kalimantan, ramai di media sosial Instagram, sejak Selasa (23/4/2024).

Unggahan akun @undercover pada Selasa tersebut disertai gambar dengan narasi yang menunjukkan citra satelit mengenai tingkat penyebaran SO2 di Kalimantan, pada Senin (22/4/2024) pukul 05.30 WIB.

Unggahan itu turut menayangkan video pria berseragam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang menjelaskan apa itu SO2 dan bahanya bagi manusia.

Pria tersebut berkata, penyebaran SO2 terjadi setelah Gunung Ruang, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara meletus pada Selasa (16/4/2024).

Oleh sebab itu, warga di Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya wilayah Paser diminta untuk memakai masker ketika keluar rumah.

"SO2 ini sangat berbahaya bagi kesehatan kita, terutama saluran pernapasan. SO2 ini adalah gas yang dapat menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan, seperti selaput lendir, hidung, tenggorokan, dan seluruh saluran udara di paru-paru," kata pria dalam video.

Lantas, benarkah terjadi penyebaran SO2 beracun sampai ke Kalimantan?

Baca juga: Warganet Sebut Suhu Kalimantan Sangat Panas, Ini Penyebabnya Menurut BMKG

Penjelasan BMKG

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur Kukuh Ribudiyanto menjelaskan, citra yang menunjukkan tingkat penyebaran SO2 di Kalimantan, yang ramai di media sosial, bukan berasal dari BMKG.

Informasi tersebut, kata Kukuh, berasal dari aplikasi Windy, perangkat Amerika Serikat (AS) yang digunakan untuk permodelan sebaran debu vulkanik termasuk SO2, bukan pengamatan.

Meski begitu, ia menyatakan BMKG memang mengamati sebaran debu vulkanik termasuk gas SO2 setelah Gunung Ruang meletus.

Berdasarkan pemantauan BMKG, sempat terlihat sebaran debu vulkanik disertai gas SO2 pada Jumat (18/4/2024) dan Sabtu (19/4/2024) di atas Kalimantan Timur.

Pada Jumat pukul 10.00 WIB, debu vulkanik bergerak ke arah Timur-Barat Laut. Sementara pada Sabtu pukul 05.00 WIB, debu vulkanik tersebut terdeteksi bergerak ke arah barat-utara dan timur laut-tenggara.

"Kondisi terkini (24 April 2024) sudah tidak ada (debu vulkanik dan SO2 dari Gunung Ruang). Sudah tidak terdeteksi," jelas Kukuh kepada Kompas.com, Rabu.

Hal tersebut didasarkan pada pengamatan BMKG melalui RGB Citra Satelit Cuaca Himawari Gunung Ruang, pada Rabu pukul 07.00 WIB.

 

Baca juga: Warganet Keluhkan Cuaca April 2024 Sangat Panas, BMKG Beri Penjelasan

Bahaya SO2

Lebih lanjut, Kukuh menerangkan bahwa SO2 berbahaya bagi kesehatan manusia dan perlu diwaspadai karena dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Halaman:

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com