3 Jenis Manusia Purba di Indonesia

Kompas.com - 17/05/2022, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Manusia purba adalah manusia yang hidup pada zaman praaksara atau sebelum tulisan ditemukan.

Diperkirakan, manusia purba sudah muncul sejak 4 juta tahun lalu. Banyak sejarawan yang berhasil menemukan fosil-fosil manusia purba di Indonesia.

Salah satunya adalah tokoh asal Belanda bernama Eugene Dubois, penemu Pithecanthropus Erectus.

Selain Pithecanthropus Erectus, ada beberapa manusia purba lainnya yang ditemukan di Indonesia.

Jumlah manusia purba di Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga jenis.

Berikut ini tiga jenis manusia purba di Indonesia.

Baca juga: Perbedaan Manusia Purba dan Manusia Modern

Meganthropus

Meganthropus adalah manusia purba yang ditemukan oleh Gustav Heinrich Ralph von Koeningswald di Sangiran pada 1941.

Fosil ini dinamakan "mega" karena ukurannya yang paling besar dibandingkan fosil-fosil lainnya.

Fosil Meganthropus dipercaya sudah ada sejak zaman Pleistosen Awal atau sekitar 1-2 juta tahun lalu, sehingga Meganthropus dianggap sebagai manusia purba tertua.

Manusia purba yang termasuk dalam jenis Meganthropus adalah Meganthropus Paleojavanicus, yang berarti manusia besar tertua asal Jawa.

Diperkirakan, Meganthropus Paleojavanicus sudah ada di Indonesia sejak 1,9 juta tahun lalu, bermukim di Pulau Jawa.

Von Koenigswald menemukan Meganthropus Paleojavanicus di Desa Sangiran, lembah Bengawan Solo.

Fosil yang ditemukan berupa fragmen rahang bawah sebelah kanan, rahang atas sebelah kiri, dan gigi lepas.

Baca juga: Meganthropus Paleojavanicus: Penemuan, Kehidupan, dan Ciri-ciri

Fosil Meganthropus Paleojavanicus dianggap sebagai fosil manusia terbesar dan tertua di Indonesia karena ukurannya yang menyerupai raksasa.

Meganthropus Paleojavanicus diperkirakan hidup pada zaman Pleistosen awal dengan gaya hidup nomaden atau berpindah-pindah.

Meganthropus Paleojavanicus juga mencari makan lewat berburu dan meramu.

Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus adalah sebagai berikut.

  • Tulang pipi tebal
  • Keningnya menonjol
  • Tidak ada dagu
  • Gerahamnya berukuran besar
  • Berbadan tegap
  • Rahang bawah tegap
  • Bentuk gigi homonim
  • Memakan tumbuh-tumbuhan
  • Kepala bagian belakangnya menonjol

Baca juga: Von Koenigswald, Penemu Fosil Meganthropus Paleojavanicus di Sangiran

Pithecanthropus

Fosil Pithecanthropus yang pertama kali ditemukan di Indonesia adalah Pithecanthropus Erectus.

Pithecanthropus Erectus ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil, Jawa Timur, pada 1890.

Selain Pithecanthropus Erectus, ada juga Pithecanthropus Mojokertensis dan Pithecanthropus Soloensis, yang ditemukan di Indonesia.

Diperkirakan usia fosil Pithecanthropus antara 30.000 sampai 2 juta tahun lalu. Mereka mencari makan sudah menggunakan alat, meskipun masih sangat sederhana, yaitu batu atau kayu.

Beberapa contoh alat yang digunakan Pithecanthropus adalah kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, pahat, genggam, dan alat-alat serpih.

Berikut ini manusia purba Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia.

Baca juga: Mengapa Pithecanthropus Erectus Disebut The Missing Link?

Jenis Penemu Ciri-ciri
Pithecanthropus Mojokertensis von Koeningswald (1936)
  • Berbadan tegak
  • Muka menonjol ke depan
  • Kening tebal
  • Tulang pipi kuat
Pithecanthropus Erectus Eugene Dubois (1890)
  • Berbadan tegap
  • Tinggi badan sekitar 165-170cm
  • Berjalan tegak
  • Makanannya masih kasar dengan sedikit pengolahan
Pithecanthropus Soloensis von Koeningswald dan Openorth (1931-1933)
  • Tengkorak lonjong
  • Kepala bagian depan menonjol
  • Rongga mata yang panjang
  • Hidung tebal dan lebar
  • Tidak punya dagu
  • Tinggi badan sekitar 165-180cm
  • Volume otak 750-1.350 cc

Baca juga: Pithecanthropus Soloensis: Penemu dan Ciri-ciri

Homo

Homo adalah jenis manusia purba yang terbilang paling muda dibanding jenis lainnya.

Berdasarkan usia lapisan tanahnya, fosil Homo diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 40.000 tahun lalu.

Ada tiga jenis fosil Homo yang ditemukan di Indonesia, sebagai berikut.

Jenis Penemu Ciri-ciri
Homo Soloensis von Koeningswald dan Weidenrich pada 1931-1934 di Bengawan Solo, Jawa Tengah.
  • Volume otak 1.013-1.251 cc
  • Tinggi badan sekitar 130-210cm
  • Berat badan sekitar 30-150kg
  • Kepala bagian belakang membulat dan tinggi

Homo Wajakensis

BD van Rietschoten paada 1888-1889 di Wajak, Jawa Timur.
  • Wajah datar dan lebar
  • Hidung lebar
  • Berat badan sekitar 30-150kg
  • Tinggi badan sekitar 130-210cm
  • Otak sudah lebih berkembang
Homo Floresiensis Peter Brown dan Mike J Morwood pada September 2003.
  • Tengkorak berukuran kecil dan memanjang
  • Bagian dahinya tidak menonjol dan sempit
  • Volume otak 380 cc
  • Tinggi badan sekitar 100 cm
  • Berat badan sekitar 30 kg
  • Berjalan tegak
  • Tidak punya dagu

 

Referensi:

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Kompas.com
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.