Kompas.com - 28/07/2022, 20:00 WIB

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan penyakit cacar monyet yang disebabkan oleh virus monkeypox sebagai darurat kesehatan global dikarenakan laporan kasus yang terus bertambah.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus monkeypox dari genus Orthopoxviridae yang pertama kali ditemukan pada sekumpulan monyet di Denmark tahun 1958.

Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dr. Robert Sinto menjelaskan, ada mutasi baru pada strain virus yang saat ini beredar. Hal ini berdasarkan laporan data penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat.

“Iya laporan yang ada sekarang ini menunjukkan bahwa dibandingkan strain tahun 2018-2019, itu sudah ada 50 titik mutasi baru di strain yang sekarang ini circulated (bersirkulasi),” ujar Robert dalam acara “Update Perkembangan Cacar Monyet di Indonesia" pada Rabu (27/7/2022).

Baca juga: Cacar Monyet Ditetapkan sebagai Darurat Kesehatan Global, Kenali Karakteristiknya

Ia menambahkan, virus terus membelah dan setiap pembelahannya berpotensi terjadi mutasi.

Mutasi yang muncul terlihat dari perbedaan karakteristik antara monkeypox di negara endemis seperti Kamerun, Benin, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabun, dan Ghana (hanya teridentifikasi pada hewan), Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone dengan negara non endemis.

“Itu kenapa muncul hipotesis mengapa tampilan klinisnya agak berbeda dengan tampilan klinis yang kita temukan di Afrika dalam beberapa tahun terakhir,” jelas dia.

Sebelumnya gejala cacar monyet di negara endemis terlihat dari lesi kulit yang menyebar di seluruh tubuh. Namun, mutasi membuat lesi kulit hanya terlihat di beberapa bagian tubuh saja seperti mulut, telapak tangan, muka, dan kaki.

Baca juga: CDC Peringatkan Cacar Monyet Muncul dengan Gejala Tidak Biasa, Apa Saja?

Perbedaan lainnya, monkeypox di Afrika bisa menginfeksi semua kelompok usia, dari anak-anak hingga lansia. Sementara itu, karakteristik monkeypox di negara non endemis, kasusnya didominasi oleh laki-laki berusia rata-rata sekitar 37 tahun.

“Meski banyak dialami laki-laki, namun penyakit ini tidak segmented. Semua orang memiliki potensi tertular virus ini. Saat ini masih dilakukan penelitian oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” papar Robert.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.