Kompas.com - 24/01/2022, 18:03 WIB

KOMPAS.com - Beberapa laporan di Inggris menyebut adanya infeksi ulang atau reinfeksi virus corona pada mereka yang sudah sembuh dari Covid-19, dan beberapa pekan kemudian kembali terinfeksi.

Bahkan reinfeksi Covid-19 terjadi lebih dari sekali, laporan tersebut mengatakan sejumlah pasien telah terpapar virus sebanyak tiga sampai empat kali.

Lantas, mengapa bisa terjadi infeksi ulang Covid-19?

Melansir The Guardian, Jumat (21/1/2022) angka infeksi ulang merujuk pada infeksi Covid yang kedua atau lebih, terlepas dari variannya.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Orang yang Tak Divaksin Lebih Rentan Alami Infeksi Ulang Covid-19

Risiko infeksi ulang sendiri mungkin tergantung dari faktor tertentu. Misalnya, data menunjukkan bahwa risikonya lebih tinggi pada orang yang belum divaksinasi atau penyintas Covid-19 dengan respons imun yang lebih rendah.

Menurut para ahli, potensi reinfeksi Covid-19 tampaknya berpengaruh dari varian virus corona. Salah satu ahli mengatakan risiko infeksi ulang varian Omicron akan lebih rendah dibandingkan varian Delta.

Selain itu, durasi setelah pemberian vaksin dosis kedua juga dinilai berkontribusi pada angka kejadian reinfeksi.

Seberapa besar potensi infeksi ulang dapat terjadi?

Berdasarkan data terbaru di Inggris dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA), sejak awal pandemi hingga 9 Januari 2022 ada sekitar 425.890 kemungkinan terjadinya infeksi ulang, dengan 109.936 kasus telah ditemukan.

Namun, kemungkinan reinfeksi yang dikonfirmasi sangat sedikit, karena memerlukan pengurutan genetik. Terlebih pada gelombang pertama di negara itu, akses tes Covid-19 cukup terbatas sehingga infeksi pertama mungkin tidak dihitung.

“Dengan kombinasi dua tahun pandemi, pengurangan antibodi, dua gelombang Delta dan Omicron yang menghindari imunitas, maka ada infeksi ulang yang cukup tak terkendali,” ujar profesor imunologi di Imperial College London, Danny Altmann.

Menurut para ilmuwan dari Imperial College London, apabila dilihat dari sejumlah faktor varian Omicron dikaitkan dengan risiko infeksi ulang antara 4,38 dan 6,63 kali lipat, dibandingkan dengan varian Delta.

Tim ilmuwan menyimpulkan, bahwa kekebalan terhadap penularan Covid-19 yang muncul dari infeksi sebelumnya dalam enam bulan terakhir turun dari 85 persen menjadi 27 persen setelah adanya Omicron.

Akan tetapi, penurunan persentase kekebalan tersebut tidak mengejutkan para ilmuwan, mengingat varian Omicron telah diketahui mampu untuk menghindari respons imun tubuh hingga tingkat yang lebih tinggi.

Baca juga: Studi: Varian Omicron Lebih Mudah Menginfeksi Ulang Penyintas Covid-19

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.