Kompas.com - 12/08/2021, 17:03 WIB
Ilustrasi antibiotik, obat antibiotik, penjualan obat antibiotik di apotek dan toko obat. ShutterstockIlustrasi antibiotik, obat antibiotik, penjualan obat antibiotik di apotek dan toko obat.


KOMPAS.com - Resistensi atau kebal antimikroba (AMR) makin tinggi dan telah menjadi masalah kesehatan yang serius, bahkan mengintai masyarakat. Pakar ingatkan perlunya kontrol ketat apotek dan toko obat dalam pemberian obat antibiotik ke masyarakat.

Para pakar mengingatkan bahwa kasus resistensi antibiotik ini makin tinggi, sehingga diperlukan kontrol ketat pemberian antibiotik. Sebab, kasus kebal terhadap antibiotik terjadi karena pemberian obat antibiotik yang tidak tepat, berlebihan atau tidak rasional.

Penelitian terbaru menunjukkan praktik pemberian antibiotik tanpa resep dokter masih banyak terjadi.

Studi ini dilakukan para peneliti di Univesitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret, Kementerian Kesehatan Indonesia, Kirby Institute di UNSW Sydney, London School of Hygiene & Tropical Medicine, University College London, dan The George Institute for Global Health di UNSW Sydney.

Dari dua per tiga kunjungan ke apotek maupun toko obat swasta, diketahui bahwa obat antibiotik diberikan tanpa resep dokter.

Baca juga: Resistensi Antibiotik Disebut Silent Pandemic, Begini Dampak dan Bahayanya pada Tubuh

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Dalam rilis UGM, Senin (10/8/2021), terkait makin tinggi kasus resistensi antibiotik ini, Guru Besar FKKMK UGM, Prof. Tri Wibawa, mengatakan dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap praktik penjualan antibiotik di apotek dan toko obat swasta.

Sebab, penggunaan obat antibiotik yang tidak bijak menjadi salah satu faktor munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotik.

"Penting melakukan kontrol terhadap peredaran antibiotik di masyarakat untuk menghindarkan ancaman resistensi bakteri terhadap antibiotik,” kata Prof Tri.

Prof Virginia Wiseman dari Kirby Institute selaku pemimpin penelitian ini memaparkan melalui penelitian dalam kemitraan dengan Komite Pengendalian Resistensi Antibiotik (KPRA) yang berada dibawah Kementerian Kesehatan Indonesia timnya melakukan penelitian dengan menggunakan mystery client.

Dalam penelitian tentang kasus resistensi antibiotik yang makin tinggi ini, para peneliti mengunjungi apotek dan toko obat swasta di Kota Bekasi Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Tabalong di Provinsi Kalimantan Selatan.

Baca juga: Mengenal Resistensi Antibiotik, dari Dampak hingga Pencegahan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.