Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Erick Thohir Sebut Akan Produksi 4 Juta Ivermectin Per Bulan, Bagaimana Potensinya untuk Covid?

Kompas.com - 22/06/2021, 14:13 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com - Diberitakan Kompas.com sebelumnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, obat ivermectin yang diproduksi PT Indofarma telah mendapat izin edar dan akan diproduksi 4 juta dosis per bulan.

“Kita sudah mulai produksi, dan InsyaAllah nantinya dengan kapasitas produksi 4 juta (tablet) per bulan,” tutur Erick.

Dalam akun Instagram-nya, Erick menyebut bahwa Ivermectin adalah obat anti-parasit yang sudah digunakan terbatas untuk terapi penyembuhan Covid-19 di berbagai negara, dari India sampai Amerika, dan juga Indonesia.

Ivermectin juga masih terus diuji untuk penambahan indikasi penggunaan untuk Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erick Thohir (@erickthohir)

Lantas, apa itu ivermectin dan bagaimana potensinya menangani Covid-19?

Baca juga: Klarifikasi BPOM Soal Ivermectin Diklaim Ampuh Tangkal Covid-19

Dijelaskan pakar Farmakologi & Clinical Research Supporting Unit dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Nafrialdi, PhD, SpPD, ivermectin secara konvensional sebenarnya digunakan sebagai obat cacing.

Dia menjelaskan, dalam pengujian in vitro (di laboratorium) obat ivermectin menunjukkan potensi dapat menekan pertumbuhan virus.

"Pengujian in vitro mengindikasikan adanya potensi menekan pertumbuhan virus, sehingga timbul gagasan mencobanya (ivermectin) untuk Covid-19," kata Nafrialdi kepada Kompas.com, Selasa (22/6/2021).

Apakah benar obat ivermectin dapat digunakan untuk terapi Covid-19, Nafrialdi berkata, pertanyaan tersebut sebenarnya hanya bisa dijawab lewat uji klinis dengan desain dan metologi yang baik.

Dia mengatakan, ada cukup banyak laporan penelitian tentang uji klinis ivermectin pada Covid-19.

"Hasilnya (studi) bervariasi, ada yg menunjukkan manfaat yg bagus, ada juga yang tidak," kata dia.

"Namun hasil metaanalisis menyimpulkan bahwa ada efek positif dari ivermectin ini," imbuhnya.

Nafrialdi menambahkan, meski ada efek positif ivermectin terhadap Covid-19, beberapa uji klinis yang dirangkum pada metaanalisis tersebut memiliki beberapa kelemahan dari segi metodologi.

Diberitakan Kompas.com edisi 12 Juni 2021, sebuah studi in vitro menunjukkan bahwa ivermectin memiliki efek menghambat replikasi SARS-CoV-2. Namun, studi ini tidak bisa dianggap sebagai acuan mengingat jumlah sampel yang digunakan sangat sedikit. Selain itu, dosis obat yang digunakan juga bervariasi dan tidak terkontrol.

Laporan pengobatan Ivermectin berhasil pada pasien, ternyata diiringi dengan konsumsi obat-obatan lain seperti doxycycline, hydroxychloroquine, azithromycin, zinc, dan kostikosteroid. Ini menyebabkan hasil klaim bahwa ivermectin bisa menyembuhkan Covid-19 tidak bisa diterima.

Berkaitan dengan penggunaan ivermectin untuk terapi Covid-19 di Indonesia, Nafrialdi meminta agar kita menunggu konsensus dari organisasi profesi kedokteran.

"Pada pedoman yang lalu (edisi desember 2020), ivermectin belum tercantum. Jadi kita tunggu saja para pakar bersidang utk menentukan kebijakan selanjutnya," terangnya.

Efek samping ivermectin

Diberitakan sebelumnya, Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari konsumsi obat ini adalah sakit kepala, pusing, mual, atau diare.

Pada beberapa orang, obat ini bisa menimbulkan efek samping yang lebih parah, yaitu nyeri sendi, kelenjar getah bening membengkak dan lunak, sakit dan kemerahan pada mata, gatal-gatal, dan demam.

Efek samping ini biasanya terjadi terutama empat hari pertama perawatan.

Baca juga: Obat Ivermectin, Indikasi dan Efek Samping Penggunaan

Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami efek samping yang lebih serius seperti sakit pada leher dan punggung, bengkak pada wajah, tangan, atau kaki, jantung berdebar, hingga hilang kesadaran.

Nafrialdi pun mengingatkan agar masyarakat tidak terdorong emosi untuk memakai obat-obatan sendiri, entah itu ivermectin atau obat yang lain, tanpa petunjuk dokter yang kompeten.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com