Kompas.com - 21/06/2021, 08:32 WIB
Ilustrasi COVID-19 varian delta SHUTTERSTOCKIlustrasi COVID-19 varian delta

KOMPAS.com - Varian virus corona Delta terus menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia.

Dilansir dari Medical News Today, varian delta SARS-CoV-2 — secara ilmiah dikenal sebagai garis keturunan B.1.617.2 — pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan pada Desember 2020 di India.

Pada April 2021, varian Delta menjadi jenis virus corona yang paling banyak menyebar dan menjadi penyebab lonjakan kasus Covid-19 di India.

Menurut sumber tepercaya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejak itu varian ini telah dilaporkan di 80 negara.

Baca juga: Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Karenanya, varian Delta pun sudah dimasukkan WHO dalam daftar variant of concern atau paling mengkhawatirkan di dunia, bersama 3 varian lain yakni varian Alpha (sebelumnya disebut varian B.1.1.7), varian Beta (sebelumnya disebut varian B.1.351), dan varian Gamma (sebelumnya varian P.1).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baru-baru ini, ada kekhawatiran – terutama di Inggris dan Amerika Serikat – bahwa varian Delta dapat menimbulkan gelombang Covid-19 lain yang bisa menghambat upaya nasional dan internasional untuk mengurangi penularan pandemi.

Penyebaran varian Delta, termasuk di Indonesia

Menurut laporan terbaru dari Public Health England (PHE), varian Delta mungkin telah menjadi varian dominan di Inggris.

"Dengan 74 persen kasus infeksi SARS-CoV-2 dan 96 persen kasus sekuensing dan genotipe yang disebabkan oleh varian Delta ini," tulis laporan PHE.

Di AS, data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyebutkan proporsi kasus Covid-19 baru yang dikaitkan dengan varian Delta sebesar 2,7 persen.

Ini adalah data pengawasan genomik selama 2 minggu, terhitung 8-22 Mei 2021.

Baru-baru ini, mantan komisaris Food and Drug Administration (FDA) Dr. Scott Gottlieb mencatat bahwa sekitar 10 persen kasus baru Covid-19 disebabkan oleh varian Delta.

Dr. Anthony S. Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, telah memperingatkan bahwa negara mana pun yang memiliki varian Delta harus khawatir bahwa akan ada lonjakan infeksi, terutama jika sebagian besar penduduk negara belum divaksinasi.

Ilustrasi varian virus corona Delta. Varian ini pertama kali diidentifikasi di India, sebelumnya dinamai B.1.617.2. Virus corona varian Delta.Shutterstock/angellodeco Ilustrasi varian virus corona Delta. Varian ini pertama kali diidentifikasi di India, sebelumnya dinamai B.1.617.2. Virus corona varian Delta.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X