Kompas.com - 07/05/2021, 18:33 WIB
Galaksi Bima Sakti pada Ramadhan 1442 H, khususnya pada bagian yang dapat dilihat dari Bumi. Diabadikan dari Blitar (Jawa Timur). Pemandangan langit malam Ramadhan. Lembaga Falakiyah PCNU Blitar/Cak BahrulGalaksi Bima Sakti pada Ramadhan 1442 H, khususnya pada bagian yang dapat dilihat dari Bumi. Diabadikan dari Blitar (Jawa Timur). Pemandangan langit malam Ramadhan.


KOMPAS.com- Salah satu malam istimewa di bulan Ramadhan adalah peristiwa Lailatul Qadar. Adalah malam sepuluh hari terakhir di setiap Ramadhan.

Pembimbing dan Pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, Jawa Tengah Marufin Sudibyo, mengatakan setiap Ramadhan, terselip malam kemuliaan yakni yang disebut lailatul qadar.

"Adalah malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan kalender," kata Marufin kepada Kompas.com, Jumat (7/5/2021).

Marufin mengatakan malam lailatul qadar adalah malam ketika para malaikat turun ke Bumi.

"Menarik sekali manakala kita mengaitkan malam kemuliaan ini dengan perspektif manusia modern tentang keluasan jagad raya," ungkapnya.

Rasulullah SAW dalam sejumlah sabdanya mengisyaratkan malam penuh berkah tersebut terjadi pada satu malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Bulan Purnama di Malam Ramadhan dan Keistimewaannya

 

Lebih lanjut Marufin menjelaskan dalam perspektif ijthadiyah, ulama besar Imam al–Ghazali dalam kitab Ianatut Thalibin menyajikan kemungkinan untuk memprakirakan malam kemuliaan berdasarkan hari terjadinya tanggal 1 Ramadhan.

Apabila awal Ramadhan bertepatan dengan hari Selasa atau Jumat, maka malam kemuliaan mungkin akan bertepatan dengan tanggal 27 Ramadhan.

"Meski demikian ini perlu digarisbawahi bahwa indikasi ini bukanlah rumus eksak yang pasti akan terjadi. Karena tidak ada yang tahu pasti kapan malam kemuliaan terjadi dan itu menjadi bagian dari rahasia–Nya," jelas Marufin.

Kendati demikian, terlepas dari kapan waktunya, menurut Marufin, malam lailatul qadar memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam semesta atau jagad raya.

Baca juga: Fase Bulan Hiasi Malam Ramadhan, dari Sabit hingga Bulan Purnama

 

Marufin mengatakan bahwa malam kemuliaan ini ditandai dengan situasi yang tenang dan langit yang cerah namun gelap tanpa taburan sumber cahaya lain kecuali bintang-bintang.

Makhluk–makhluk yang diciptakan dari cahaya turun ke Bumi untuk beragam urusan.

"Cukup menarik bahwa cahaya dan waktu sebagaimana yang kita ketahui pada saat ini menjadi dua komponen terpenting dalam memahami jagat raya kita," imbuhnya.

Malam lailatul qadar di bulan Ramadhan, di dalam Al Qur'an, kata Marufin, dinyatakan bahwa sehari setara dengan seribu malam yang tercantum dalam Surat Al-Hall ayat 47. Serta, sehari setara juga dengan 50.000 tahun yang tertuang dalam Al Qur'an Surat Al Maarij ayat 4.

Baca juga: Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X