3 Alasan Epidemiolog Sebut Penggunaan GeNose di Stasiun Kereta Tak Tepat

Kompas.com - 29/01/2021, 18:05 WIB
Ini rupa alat GeNose C19 besutan Universitas Gajah Mada (UGM) yang diyakini akurasi deteksi virus corona hingga 90 persen, Jakarta, Sabtu (23/1/2021). Dokumentasi Humas Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan InvestasiIni rupa alat GeNose C19 besutan Universitas Gajah Mada (UGM) yang diyakini akurasi deteksi virus corona hingga 90 persen, Jakarta, Sabtu (23/1/2021).

KOMPAS.com - Ahli Epidemiologi dan Peneliti Pandemi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa alat deteksi Covid-19 melalui napas yang disebut GeNose sebaiknya digunakan di rumah sakit bukan stasiun kereta api.

Dicky menilai alat uji tes napas GeNose yang sedang ramai digaungkan akan dipakai di Indonesia sebagai alat skrining kasus infeksi Covid-19, penempatannya tidak tepat jika diadakan di stasiun dan terminal bus.

"Berbasis dari risetnya sendiri, mesinnya (GeNose) sudah dimodifikasi dalam realita kondisi rumah sakit. Tentu rumah sakit dan populasi umum itu berbeda," kata Dicky kepada Kompas.com, Jumat (29/1/2021).

Baca juga: Mengenal GeNose Alat Deteksi Virus Corona, Bisakah Gantikan PCR?

Untuk diketahui, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi sebelumnya mengatakan, bahwa GeNose akan digunakan mulai dari 5 Februari 2021 di stasiun kereta api jarak jauh.

Alat ini juga akan digunakan di terminal, namun pengecekan terhadap calon penumpang nantinya dilakukan secara acak.

Menhub Budi berharap penggunaan GeNose ini dapat lebih meringankan beban penumpang kereta api dan bus, karena harga tes yang murah, yakni Rp 20.000.

"Katakanlah (harga tiket kereta) Jakarta-Bandung Rp 100.000, kalau mesti tes antigen Rp 100.000 lagi kan mahal. Dengan GeNose ini harganya hanya Rp 20.000," ujar Budi, Minggu (24/1/2021).

Alasan tidak bisa dipakai di stasiun

Dicky menyebutkan ada beberapa alasan kenapa alat GeNose yang ada di Indonesia saat ini, sebaiknya tidak dipergunakan di stasiun ataupun terminal bus. Tapi, lebih baik dipergunakan di rumah sakit atau puskesmas.

1. Basis riset target populasi

Dicky mengatakan, jika penggunaan alat GeNose direncanakan dipakai di sarana publik ataupun transportasi umum, itu artinya target populasi adalah masyarakat umum.

Sementara, sejak awal target populasi dari riset yang dilakukan terhadap alat GeNose adalah orang yang berisiko rentan terinfeksi Covid-19, yaitu populasi di pelayanan kesehatan.

"Dan ini ditambah lagi dengan kondisi di mana di (uji klinik) fase 2 nya itu pun, tetap dilakukan di lingkungan kasus atau potensi positifnya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kondisi populasi umum, yang di sini menjadi dalam lagi terkait clash in balance (perselisihan keseimbangan riset dan penerapan lapangan)-nya antara positif dan negatif," jelas dia.

Hal ini dikarenakan, di populasi umum, tentu partisipan yang positif justru lebih sedikit dibandingkan dengan yang di rumah sakit.

Pasalnya, umumnya saat ini orang yang di rumah sakit, tentunya mereka sudah melakukan cek terlebih dahulu apakah mereka membawa atau terinfeksi virus atau tidak.

Baca juga: Kantongi Izin Edar, Ahli Sarankan Tes GeNose Tak Dipakai Luas Dulu

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebijakan Lepas Masker, Bagaimana Risiko Penularan Covid-19 di Luar Ruangan?

Kebijakan Lepas Masker, Bagaimana Risiko Penularan Covid-19 di Luar Ruangan?

Kita
Sampel Dugaan Hepatitis Akut Misterius Akan Diperiksa dengan WGS, Ini Kata Kemenkes

Sampel Dugaan Hepatitis Akut Misterius Akan Diperiksa dengan WGS, Ini Kata Kemenkes

Kita
Mengenal Preeklamsia, Hipertensi di Masa Kehamilan

Mengenal Preeklamsia, Hipertensi di Masa Kehamilan

Oh Begitu
Tak Bisa Sembuh, Kenali Gejala Penyakit Lupus dan Hal yang Harus Dihindari

Tak Bisa Sembuh, Kenali Gejala Penyakit Lupus dan Hal yang Harus Dihindari

Oh Begitu
Dugaan Hepatitis Akut Misterius di Indonesia Jadi 14 Kasus, Ini Laporan Kemenkes

Dugaan Hepatitis Akut Misterius di Indonesia Jadi 14 Kasus, Ini Laporan Kemenkes

Kita
4 Kebiasaan Bikin Miss V Berbau Tidak Sedap, Salah Satunya Jarang Mandi

4 Kebiasaan Bikin Miss V Berbau Tidak Sedap, Salah Satunya Jarang Mandi

Oh Begitu
Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Kita
Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Oh Begitu
6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

Kita
Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Oh Begitu
Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Fenomena
Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Oh Begitu
Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Oh Begitu
Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Kita
[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.