Kompas.com - 09/11/2020, 16:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Peneliti menemukan metode baru untuk mengetahui kadar hormon kortisol – penyebab stress, dengan menganalisis kotoran telinga.

Cara ini rupanya berguna untuk melacak kesehatan mental seseorang yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Hormon kortisol akan melonjak saat seseorang stres dan menurun saat mereka rileks. Dalam jangka pendek, hormon ini bertanggung jawab atas respons "lawan atau lari", jadi memang penting untuk kelangsungan hidup.

Baca juga: Stres Bisa Bikin Perut Buncit, Begini Cara Mengatasinya

Namun, pada orang yang memiliki depresi dan gangguan kecemasan, kadar kortisol akan meningkat secara konsisten.

Kadar kortisol yang terus-menerus tinggi akan berdampak negative pada system kekebalan, tekanan darah, dan bahkan fungsi tubuh lainnya.

Melacak kadar kortisol

Ada banyak cara untuk mengukur kadar kortisol atau hormon stres, melalui sampel air liur, darah, dan juga rambut. Tetapi sampel air liur dan darah umumnya hanya menangkap kadar kortisol sesaat, sedangkan kadar kortisol berfluktuasi secara signifikan sepanjang hari.

Bahkan pada beberapa orang, menghadapi jarum suntik saat akan pengambilan darah dapat meningkatkan stres, dan itu berarti dapat meningkatkan kadar kortisol.

Sampel rambut dapat memberikan gambaran singkat tentang kortisol selama beberapa bulan, bukan beberapa menit, tetapi analisis rambut cenderung mahal.

Baru-baru ini, Andrés Herane-Vives, dosen di Institut Ilmu Saraf Kognitif dan Institut Psikiatri University College London bersama rekan-rekannya mencoba mendeteksi kadar kortisol melalui kotoran telinga.

Seperti dikutip dari Live Science, menurut Herane-Vives, kotoran telinga lebih stabil dan tahan terhadap kontaminasi bakteri, sehingga dapat dikirim ke laboratorium dengan mudah untuk dianalisis. Selain itu juga dapat menyimpan catatan tingkat kortisol yang berkembang selama berminggu-minggu.

Tetapi, metode pemanenan kotoran telinga sebelumnya melibatkan penusukan jarum suntik ke telinga dan menyiramnya dengan air, yang bisa sedikit menimbulkan rasa sakit dan membuat stres.

Kemudian, Herane-Vives dan rekan-rekannya mengembangkan swab yang, jika digunakan, tidak akan lebih membuat stres.

Alat swab memiliki pelindung di sekitar pegangan, sehingga tidak akan mendorongnya terlalu jauh ke telinga dan merusak gendang telinga. Spons di bagian ujung akan menampung kotoran telinga.

Baca juga: Stres Selama Pandemi Covid-19, Harus Bagaimana?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.