Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Kompas.com - 27/09/2020, 19:32 WIB
Ilustrasi mutasi virus corona baru. Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19. SHUTTERSTOCK/Polina TomtosovaIlustrasi mutasi virus corona baru. Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.


KOMPAS.com- Para peneliti mengungkapkan pembawa mutasi genetik PiZ dan PiS dari virus corona berisiko tinggi mengalami Covid-19 yang parah, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Mutasi ini, seperti dilansir dari Science Daily, Minggu (27/9/2020), dapat menyebabkan kekurangan protein alfa 1-antitripsin.

Yakni, protein yang melindungi jaringan paru-paru dari kerusakan jika terjadi infeksi yang parah pada organ tersebut.

Studi ini dilakukan para peneliti di Tel Aviv University dan penelitian lain telah mengaitkan juga bahwa kekurangan protein tersebut dapat menyebabkan kerusakan inflamasi pada fungsi paru-paru pada penyakit lain.

Baca juga: Alasan Mutasi Virus D614G Tak Memengaruhi Pengembangan Vaksin Covid-19

 

Dalam studi yang diterbitkan dalam The FASEB Journal pada 22 September 2020, kedua peneliti, Prof. David Gurwitz dan Prof. Noam Shomron dari TAU's Sackler Faculty of Medicine, menganalisis data dari 67 negara dan membandingkannya.

Mereka menemukan korelasi yang signifikan antara prevalensi kedua mutasi pada populasi dan angka kematian Covid-19 yang disesuaikan dengan ukuran populasi di banyak negara.

Di antaranya seperti Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Spanyol, Italia dan negara lainnya.

"Kami meminta komunitas riset untuk menguji hipotesis kami terhadap data klinis, dan juga menyerukan kepada pengambil keputusan di setiap negara untuk melakukan skrinng seluruh populasi," ungkap peneliti.

Baca juga: Mutasi Virus Corona Lebih Menular juga Dilaporkan di Negara Ini

 

Tujuannya, untuk mengidentifikasi pembawa mutasi dan memprioritaskan vaksinasi pada mereka segera setelah vaksin corona yang disetujui.

Oleh sebab itu, peneliti menyarankan bahwa mutasi ini mungkin menjadi faktor risiko keparahan Covid-19 yang banyak diderita pasien virus corona.

Saat ini, para peneliti mengusulkan bahwa temuan tersebut harus diperkuat dengan uji klinis.

Jika divalidasi, maka harus diarahkan pada upaya skrining seluruh populasi untuk mengidentifikasi pembawa mutasi genetik, baik PiS maupun PiZ.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Fenomena
Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Oh Begitu
Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Fenomena
BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

Oh Begitu
WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

Oh Begitu
Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Kita
Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Oh Begitu
Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Oh Begitu
Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Kita
Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Oh Begitu
Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Fenomena
Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Oh Begitu
Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Oh Begitu
Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Oh Begitu
Gali Situs Pompeii, Ahli Temukan lagi Korban Letusan Gunung Vesuvius

Gali Situs Pompeii, Ahli Temukan lagi Korban Letusan Gunung Vesuvius

Fenomena
komentar
Close Ads X