Pengembangan Vaksin Corona di Indonesia, Ini Teknologi dan Tantangannya

Kompas.com - 26/08/2020, 17:30 WIB
Ilustrasi vaksin corona ShutterstockIlustrasi vaksin corona


KOMPAS.com - Vaksin untuk Covid-19 masih dalam proses penelitian, sehingga antivirus spesifik untuk penyakit yang telah menginfeksi lebih dari 23 juta orang di dunia belum tersedia. 

Perkembangan Penelitian vaksin di Universitas Indonesia sudah pada vaksin DNA yang sedang diujicobakan pada hewan coba, vaksin RNA sedang diespresikan, dan vaksin VLP yang masih dalam tahap perancangan sistem ekspresi pada sel CHO.

Alasan vaksin DNA dan RNA digunakan adalah bisa menyesuaikan virus yang baru timbul dengan cepat dan dapat diperbanyak dengan cepat.

Pengembangan kemampuan ini sangat baik jika dilakukan, dikarenakan bisa sangat efisien untuk memenuhi kebutuhan jumlah vaksin corona di Indonesia.

Baca juga: AS Kekurangan Jarum Suntik, Imunisasi Vaksin Corona Bisa Terganggu

Perancangan vaksin VLP yang diekspresikan pada sel CHO ini lebih aman dari segi produksi, kemudian menyerupai struktur virus yang asil dan memiliki stimulasi antibodi yang relatif baik. 

R&D Vaksin Covid-19 dari Bio Farma melakukan stategi jangka panjang dan jangka pendek.

Kolaborasi jangka pendek atau menengah merupakan kolaborasi Internasional dengan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) dan Sinovac. Kolaborasi jangka panjang dengan Konsorsium Nasional.

Ilustrasi peneliti melakukan pengembangan vaksin virus corona, covid-19, di laboratorium. Ilustrasi peneliti melakukan pengembangan vaksin virus corona, covid-19, di laboratorium.

Baca juga: Sejak Juli, China Mulai Beri Vaksin Covid-19 ke Petugas Medis

 

Program jangka menengah memiliki Bulk vaksin yang lulus tahap uji klinis fase satu dan fase dua, kemudian diformulasi oleh Bio Farma. Sehingga bisa melakukan uji klinis fase tiga dan mendapatkan ijin NRA.

Uji klinis fase tiga dilakukan dengan kriteria sebagai berikut.

  1. Di tempat dengan kasus Covid-19 tertinggi,
  2. Di berbagai multientnik untuk mendapatkan gambaran keamanan, respon imun, dan efikasi dengan beragam populasi,
  3. Partisipan ribuan orang untuk memberikan data terhadap kemungkinan adanya rare adverse event,
  4. Multicentre, untuk Sinovac: Indonesia, Bangladesh, Turki, Chile, dan Blazil.

DR.dr. Budiman Bela, Sp.MK, Kepala Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi, Fakultas Kedokteran UI mengatakan saat vaksin sudah ditemukan, maka yang mendapatkan prioritas vaksin adalah pekerja kesehatan dan yang berperan dalam pekerjaan pengendalian infeksi Covid-19 di lapangan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Makanan Mengandung Micin?

Bolehkah Ibu Hamil Mengonsumsi Makanan Mengandung Micin?

Oh Begitu
China Haruskan Tes Swab Anal Covid-19 untuk Wisatawan, Apa Kata Pakar?

China Haruskan Tes Swab Anal Covid-19 untuk Wisatawan, Apa Kata Pakar?

Fenomena
Varian Baru Virus Corona Terus Bermunculan, Begini Cara Menghindarinya

Varian Baru Virus Corona Terus Bermunculan, Begini Cara Menghindarinya

Kita
Makan Sembarangan Bisa Picu Fam Muncul di FYP TikTok, Apa Sih Itu?

Makan Sembarangan Bisa Picu Fam Muncul di FYP TikTok, Apa Sih Itu?

Kita
POGI Belum Rekomendasikan Vaksinasi Covid-19 untuk Ibu Hamil, Ini Alasannya

POGI Belum Rekomendasikan Vaksinasi Covid-19 untuk Ibu Hamil, Ini Alasannya

Oh Begitu
Ahli: Lokasi dan Waktu Gempa Megathrust Tidak Bisa Dipastikan

Ahli: Lokasi dan Waktu Gempa Megathrust Tidak Bisa Dipastikan

Fenomena
Jangan Lewatkan, Fenomena Bulan Perbani Akhir dan Elongasi Barat Merkurius Hari Ini

Jangan Lewatkan, Fenomena Bulan Perbani Akhir dan Elongasi Barat Merkurius Hari Ini

Fenomena
Jangan Sepelekan Bisul, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Jangan Sepelekan Bisul, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kita
Berumur 70 Tahun, Burung Liar Tertua Ini Masih Produktif Bertelur

Berumur 70 Tahun, Burung Liar Tertua Ini Masih Produktif Bertelur

Fenomena
Menristek Dukung Lapan Hadirkan Penginderaan Jauh Berbasis Digital, Ini Tujuannya

Menristek Dukung Lapan Hadirkan Penginderaan Jauh Berbasis Digital, Ini Tujuannya

Oh Begitu
Kacamata Berembun Saat Pakai Masker, Begini Cara Mengatasinya

Kacamata Berembun Saat Pakai Masker, Begini Cara Mengatasinya

Kita
[POPULER SAINS] Nia Ramadhani Telmi karena Kurang Zat Besi? | 8 Fakta Tsunami Selandia Baru

[POPULER SAINS] Nia Ramadhani Telmi karena Kurang Zat Besi? | 8 Fakta Tsunami Selandia Baru

Oh Begitu
Nenek Moyang Manusia Hidup Berdampingan dengan Dinosaurus, Ini Buktinya

Nenek Moyang Manusia Hidup Berdampingan dengan Dinosaurus, Ini Buktinya

Oh Begitu
Mengenal 4 Varian Baru Virus Corona dan Bagaimana Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawannya

Mengenal 4 Varian Baru Virus Corona dan Bagaimana Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawannya

Oh Begitu
Wahana Starship Milik SpaceX Berhasil Mendarat, tapi Langsung Meledak

Wahana Starship Milik SpaceX Berhasil Mendarat, tapi Langsung Meledak

Oh Begitu
komentar
Close Ads X