Penemuan yang Mengubah Dunia: Sebelum Vaksinasi, Plasma Darah Senjata Melawan Pandemi sejak 1880-an

Kompas.com - 26/08/2020, 07:32 WIB
Ilustrasi pasien Covid-19 yang sembuh dari infeksi virus corona SARS-CoV-2 mendonorkan plasma darahnya untuk terapi plasma konvalense (plasma sembuh). Ilustrasi pasien Covid-19 yang sembuh dari infeksi virus corona SARS-CoV-2 mendonorkan plasma darahnya untuk terapi plasma konvalense (plasma sembuh).


KOMPAS.com - Badan pengawas obat dan makanan (FDA) Amerika Serikat (AS) baru saja mengizinkan penggunaan plasma darah dari pasien yang sembuh dari infeksi virus corona.

Pandemi baru ini telah membuat hampir 24 juta orang di dunia terinfeksi virus corona baru, SARS-CoV-2, dan menyebabkan 818.216 orang meninggal.

Hingga saat ini, pengembangan vaksin terus dikebut untuk bisa mengendalikan pandemi global ini. Sebab, Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini, semakin menyebar.

Vaksin corona diperkirakan akan siap paling cepat di akhir tahun ini, tetapi sebagian besar baru dapat tersedia pada 2021.

Sementara itu, angka kasus infeksi semakin bertambah. Satu-satunya bentuk perawatan yang memungkinkan dilakukan yakni penggunaan plasma darah dari pasien Covid-19 yang telah pulih.

Baca juga: Plasma Konvalesen untuk Pengobatan Covid-19, Begini Syarat Jadi Donor

 

Disebut sebagai plasma konvalesen, yang ternyata bukanlah teknologi pengobatan baru di dunia kedokteran. Pasalnya, metode ini telah digunakan untuk melawan berbagai penyakit dan pandemi flu yang mewabah tahun 1918 lalu.

Dari tahun 1880-an hingga era ditemukannya antibiotik, plasma konvalesen dari plasma darah pasien yang sembuh dari penyakit juga pernah digunakan untuk mencegah dan mengobati banyak infeksi bakteri dan virus pada manusia dan hewan.

Ilustrasi peneliti mengambil plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19. Plasma konvalesen atau plasma pulih untuk dijadikan terapi antibodi bagi pasien Covid-19. Ilustrasi peneliti mengambil plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19. Plasma konvalesen atau plasma pulih untuk dijadikan terapi antibodi bagi pasien Covid-19.

Baca juga: AS Izinkan Terapi Plasma Konvalesen Obati Pasien Covid-19, Apa Itu?

Serum darah obati wabah difteri

Pendekatan rasional pertama, pada tahun 1890 dilakukan oleh ahli fisiologi Emil von Behring dan Kitasato untuk mengobati difteri, dikutip dari National Center for Biotechnology Information (NCBI).

Behring menggunakan serum darah, yang awalnya itu diproduksi dari hewan yang diimunisasi tetapi segera seluruh serum darah dari donor pulih dengan kekebalan humoral tertentu diidentifikasi sebagai kemungkinan sumber antibodi spesifik yang berasal dari manusia.

Melansir History, berkat metode perawatan yang disebut sebagai antitoksin difteri, Behring diganjar Hadiah Nobel pertama di bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1901.

Antitoksin Von Behring bukan vaksin, akan tetapi menjadi contoh paling awal metode pengobatan yang kemudian dikenal sebagai plasma pemulihan atau plasma konvalesen.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Temuan Baru, Aligator Kerabat Buaya Ternyata Bisa Meregenerasi Ekornya

Temuan Baru, Aligator Kerabat Buaya Ternyata Bisa Meregenerasi Ekornya

Fenomena
Kepulauan Seribu hingga Papua Barat, Waspada Gelombang Tinggi 4 Meter

Kepulauan Seribu hingga Papua Barat, Waspada Gelombang Tinggi 4 Meter

Fenomena
Tren Diet Semakin Gencar Dilakukan Remaja demi Citra Tubuh Ideal

Tren Diet Semakin Gencar Dilakukan Remaja demi Citra Tubuh Ideal

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Bagaimana Burung Hantu Memutar Kepala 270 Derajat?

Serba-serbi Hewan: Bagaimana Burung Hantu Memutar Kepala 270 Derajat?

Oh Begitu
8 Mitos Menstruasi, Benarkah Darah Menstruasi Bisa Obati Jerawat?

8 Mitos Menstruasi, Benarkah Darah Menstruasi Bisa Obati Jerawat?

Oh Begitu
Penemuan yang Mengubah Dunia: mRNA Pernah Diabaikan hingga Jadi Teknologi Vaksin Terdepan

Penemuan yang Mengubah Dunia: mRNA Pernah Diabaikan hingga Jadi Teknologi Vaksin Terdepan

Oh Begitu
Probiotik Dapat Membantu Turunkan Berat Badan dan Kurangi Lemak Perut

Probiotik Dapat Membantu Turunkan Berat Badan dan Kurangi Lemak Perut

Kita
Dinosaurus Juga Alami Infeksi Tulang Akut, Peneliti Temukan Buktinya

Dinosaurus Juga Alami Infeksi Tulang Akut, Peneliti Temukan Buktinya

Oh Begitu
Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Oh Begitu
Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Fenomena
Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Oh Begitu
Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Fenomena
BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

Oh Begitu
WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

Oh Begitu
Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Kita
komentar
Close Ads X