Populasi Spesies Ikan yang Populer untuk Seafood Menurun Tajam

Kompas.com - 23/07/2020, 07:09 WIB
Ilustrasi hidangan seafood. ShutterstockIlustrasi hidangan seafood.

KOMPAS.com - Jika Anda penggemar boga bahari alias seafood, bisa jadi ini waktunya Anda khawatir. Mengapa bisa begitu?

Sebuah studi yang dilakukan oleh Sea Around Us menyebut bahwa ikan dan invertebrata di seluruh dunia mengalami penurunan populasi yang signifikan.

Seperti dilansir Phys.org, Selasa (21/7/2020), peneliti melakukan studi terhadap biomassa atau jumlah populasi tertentu di dalam air pada lebih dari 1.300 populasi ikan dan invertebrata yang cukup populer dan kerap dikonsumsi oleh masyarakat.

Baca juga: Seafood jadi Makanan Nenek Moyang Manusia saat Tinggalkan Afrika

"Ini adalah studi global pertama kali tentang tren jangka panjang mengenai biomassa populasi ikan laut serta invertebrata yang dieksploitasi di semua wilayah pesisir planet ini," ungkap Maria "Deng" Palomares, peneliti dari Sea Around Us.

Hasilnya, dari populasi yang dianalisis dalam penelitian ini, 82 persen berada di bawah tingkat tangkapan yang optimal dan berkelanjutan karena seafood ditangkap lebih banyak daripada tingkat pertumbuhan mereka.

Ini artinya kian hari nelayan makin sedikit menangkap ikan dan invertebrata. Bahkan, jika mereka berusaha lebih keras dengan memancing lebih lama lagi.

"Faktanya, ada sekitar 87 populasi seafood berada dalam kategori sangat buruk yang membuat penangkapan ikan berkelanjutan sulit dilakukan," papar Palomares.

Lebih lanjut, peneliti menyebutkan bahwa penurunan seafood terbesar ditemukan di bagian selatan, kutub selatan Samudra Hindia, dan kutub selatan Samudra Atlantik.

Baca juga: Ikan Langka Berkepala Mohawk Akhirnya Resmi Punah, Kok Bisa?

Temuan ini pun menguatkan studi sebelumnya mengenai penangkapan ikan yang berlebihan di sebagian besar wilayah dunia selama lebih kurang 60 tahun.

"Dengan demikian, jalur untuk perbaikan dalam manajemen perikanan perlu dilakukan, bukan hanya batas total tangkapan tahunan yang diatur, melainkan juga kawasan perlindungan yang memungkinkan stok ikan kembali berkembang," tambah Dirk Zeller, peneliti lain yang tergabung dalam studi ini.

Penelitian telah dipublikasikan dalam Estuarine, Coastal and Shelf Science.



Sumber PHYSORG
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar
Close Ads X