Realita Pahit Kondisi ABK di Indonesia

Kompas.com - 08/05/2020, 17:02 WIB
Para Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia ketika bekerja di kapal penangkap ikan yang memburu hiu. KFEM via BBCPara Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia ketika bekerja di kapal penangkap ikan yang memburu hiu.

Meski profesi sektor perikanan memiliki jam kerja yang tidak menentu, mayoritas jam kerja ABK ditentukan oleh kapten kapal itu sendiri.

“Jam kerjanya tidak manusiawi. Kadang-kadang kami bisa kerja sampai 24 jam per hari. Kerja di malam hari tanpa istirahat. Waktu sudah selesai, kami dapat istirahat tapi hanya empat jam dalam sehari,” tutur salah satu nelayan asal Tegal yang diwawancara oleh peneliti laporan tersebut.

Isu lainnya adalah tempat beristirahat. Seorang ABK lainnya asal Tegal menyebutkan ruangan untuk istirahat di kapal sangat sempit.

“Terlalu kecil untuk 20-25 orang. Kami terkadang harus istirahat sambil duduk karena tidak cukup ruang,” tambahnya.

Para ABK tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan yang ditangkap. Biasanya mereka mendapatkan jatah makan dua kali dalam satu hari. Sebagai tambahan, tersedia makanan ringan seperti mie instan yang harus mereka beli. Jika mengonsumsinya, gaji akan terpotong.

Namun, banyak ABK yang tidak seberuntung itu.

“Terkadang kami tidak diberikan makanan yang cukup. Kami hanya diberikan air minum, tapi tidak dikasih makanan. Kami hanya bisa memasak makanan berat karena tidak ada makanan ringan. Kami membawa air minum sendiri, kadang mencairkan dulu balok es untuk diminum,” tutur ABK yang sama.

Dengan kondisi seperti itu, tinggal di kapal dalam waktu yang lama (untuk kasus ABK asal Tegal tersebut: 10 bulan di lautan) menjadi sangat menantang. Tak heran banyak ABK yang menderita Beri Beri, penyakit kekurangan vitamin yang juga kerap dialami ABK asal Thailand dan Taiwan.

“Menangkap cumi bisa membuat kami sakit dengan sangat cepat. Orang-orang biasanya menderit kaki bengkak dan Beri Beri. Rasanya sangat gatal, karena kami tidak diberikan sepatu khusus dan hanya bertelanjang kaki,” tuturnya.

Kekerasan dan hukuman

Studi yang dilakukan terhadap para ABK Thailand menemukan nasib serupa. Studi tersebut menunjukkan satu dari lima ABK mengalami kekerasan.

Kekerasan adalah hal yang cukup lumrah dalam pekerjaan sektor perikanan di Thailand. Berbeda dengan Indonesia, di mana faktor kekerasan hanya ada ketika kapten kapal tersohor karena kerap melakukan kekerasan.

Faktor penyebab kekerasan tersebut paling banyak disebabkan oleh kecacatan atau kesalahan menangkap ikan yang dilakukan oleh para ABK.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X