Tanpa Physical Distancing, Kematian Massal Akibat Corona Bisa Terjadi di Indonesia

Kompas.com - 31/03/2020, 14:59 WIB
Ilustrasi virus corona, penularan virus corona di transportasi umum ShutterstockIlustrasi virus corona, penularan virus corona di transportasi umum

KOMPAS.com – World Health Organization (WHO) menghimbau swarga dunia untuk melakukan physical distancing. Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai virus corona yang hanya bisa hidup jika memiliki inang (manusia).

Namun banyak orang mengindahkan physical distancing bahkan masih melakukan aktivitas seperti biasa. Padahal, hal ini sangat penting untuk mencegah terjadinya kematian massal bahkan hilangnya sebuah generasi.

Pada kenyataannya, Covid-19 bisa berakibat fatal pada usia produktif. Di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, 60 persen pasien Covid-19 masuk dalam kelompok produktif.

Baca juga: Kasus Corona Bertambah, Tes Rapid PCR Bisa Lebih Dini Temukan Pasien

Kelompok ini juga tidak terlepas dari risiko kemungkinan perburukan yaitu ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Hal ini juga berkaitan dengan teori Herd Immunity, yaitu membiarkan imunitas alami tubuh hingga terbentuk daya tahan terhadap virus. Sehingga, penyebaran virus diharapkan reda dengan sendirinya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr dr Sally A Nasution, SpPd, K-KV, FINASIM, FACP.

“Pada kondisi terinfeksi virus, tubuh kita otomatis membentuk antibodi. Siapa yang akan membentuk antibodi? Yaitu orang-orang yang imunitasnya baik, pada usia produktif sekitar 18-50 tahun,” tutur Sally kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2020).

Baca juga: Update Corona 31 Maret: 785.797 Kasus di 200 Negara, 165.659 Sembuh

Namun, tak semua orang produktif memiliki imunitas yang baik. Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak nomor 4 di dunia memiliki jumlah usia produktif 64 persen dan lansia 9,6 persen.

Ditambah banyaknya penyakit penyerta yaitu kardivaskular 1,5 persen, diabetes 10,9 persen, penyakit paru kronis 3,7 persen, hipertensi 34 persen, kanker 1,8 persen per 1 juta penduduk, dan penyakit autoimun sebesar 3 persen.

“Jika usia produktif saja memiliki imunitas yang baik, jumlah populasi yang berisiko terkena infeksi melalui Herd Immunity akan berjumlah fantastis,” lanjutnya.

Ilustrasi corona virus (Covid-19)shutterstock Ilustrasi corona virus (Covid-19)

Hilangnya satu generasi

Sally menegaskan, jika tidak ada upaya preventif, Indonesia bisa kehilangan satu generasi orang muda yang produktif.

“Itu merupakan perhitungan kami dari sisi epidemiologi dan keilmuan mengenai daya tahan tubuh manusia. Bagaimana sistem imunitas merespon terhadap suatu infeksi dari wabah seperti ini,” tambahnya.

Baca juga: Pentingnya Disiplin Diri untuk Kurangi Angka Kematian akibat Corona

Deteksi dini dan pengobatan memang penting. Namun, lanjut Sally, memutus rantai penyebaran virus corona adalah cara paling tepat untuk menghindari kemungkinan hilangnya generasi ini.

Physical distancing. Teorinya sangat sederhana, namun harus dipahami esensinya. Virus itu banyak sekali jumlahnya, gampang sekali menular. Namun kalau seseorang batuk atau bersin dan di sekitarnya tidak ada orang, virusnya akan mati. Tidak ada inang. Sudah, begitu saja,” paparnya.

Jika hampir semua orang melakukan physical distancing, lanjutnya, diharapkan kurva penyakit baru akan melandai.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X