Atasi Virus Corona, Ini Pelajaran dari Strategi di Italia hingga China

Kompas.com - 31/03/2020, 16:33 WIB
Antrean para pengendara mobil yang melakukan tes virus corona drive-thru di Seoul, Korea Selatan, Senin (16/3/2020). YONHAP/EPA-EFEAntrean para pengendara mobil yang melakukan tes virus corona drive-thru di Seoul, Korea Selatan, Senin (16/3/2020).


KOMPAS.com- Sejak Desember 2019 lalu, wabah virus corona jenis baru yaitu SARS-CoV-2 ini melanda masyarakat Wuhan, China. Saat ini sudah lebih dari 190 negara yang juga terjangkit wabah Covid-19 ini, termasuk Indonesia.

Setiap negara sedang sibuk menyiapkan berbagai strategi dalam menangani virus yang disebutkan mudah sekali menyebarnya melalui droplet ini.

Beberapa negara berhasil menekan angka laju penularan dan juga angka kematian dari Covid-19 ini. Namun, beberapa negara lainnya justru sedang mengalami masa kritis dengan jumlah kasus konfirmasi dan kematian akibat Covid-19 ini meningkat.

Lantas apa yang bisa dipelajari dari strategi berbagai negara dalam menghadapi wabah Covid-19 ini?

Baca juga: Update Corona 31 Maret: 785.797 Kasus di 200 Negara, 165.659 Sembuh

Disampaikan oleh Epidemilogist Researcher Imperial College London, Dr Dian Kusuma, dari strategi penanganan wabah virus corona dari banyak negara, kita bisa belajar bagaimana mencari alternatif dan strategi yang sesuai dengan Indonesia agar tidak terlanjur krisis dari banyak aspek akibat wabah Covid-19.

Berikut beberapa negara dan pelajaran yang bisa dijadikan pola pandang baru dalam memutuskan strategi mengatasi wabah Covid-19 saat ini.

1. Italia

Mengurangi bias komunitas

Di awal wabah ini menyebar antar manusia di Wuhan, hingga hadir di Italia, masyarakat dan pemangku kebijakan agak meragukan atau skeptis apakah Covid-19 ini berbahaya.

Kendati para ahli saintis juga sudah memberikan peringatan, wabah virus corona yang menyebabkan Covid-19 ini akan menjadi masalah besar, berdasarkan modeling kasus-kasus harian.

Baca juga: Jumlah Pasien Corona Bertambah, Kapan Harus Curiga Gejalanya?

Oleh sebab itu, apabila sudah melakukan modeling dari berbagai aspek dan jika memang berpotensi katrastrofik, maka seharusnya segera mengambil tindakan walaupun tindakan itu bersifat besar dan drastis misalnya karantina parsial.

"Jadi penting bagi kita semua untuk mengurangi bias ini," kata Dian dalam diskusi online bertajuk Covid-19: Tantangan Saat Ini dan Alternatif Solusi Berbasis Bukti oleh Mata Garuda, Senin (30/3/2020).

Hindari solusi yang sedikit

Solusi yang sedikit-sedikit, dimaksudkan Dian adalah pembatasan awal yang dilakukan Italia tidak langsung menutup provinsi yang terdampak, mereka hanya membatasi gerak masyarakat tapi tidak signifikan.

"Mungkin saat itu mereka tidak tahu, kalau tahu bakal (bisa) separah sekarang mungkin akan lockdown waktu dulu (awal ada kasus infeksi)," kata Dian.

Jadi, memerhatikan modeling dan penyebaran penyakitnya dianggap penting untuk memutuskan kebijakan dalam mengatasi kasus Covid-19 ini.

Baca juga: Gejala Covid-19 Sembuh, Pasien Masih Berpotensi Tularkan Virus Corona

2. Korea Selatan

Pelajaran yang didapatkan dari Korea Selatan adalah melakukan pemeriksaan sebanyak 400.000 orang dengan cara drive-thru, sehingga bisa mengetahui beban penyakit dan lokasinya.

Untuk diketahui, cara tes virus corona drive-thru yang dimaksudkan adalah pasien datang menggunakan mobil, mengisi formulir dan dapat hasil tesnya.

Jika pasien dilakukan rapid tes, maka hasilnya akan diterima langsung setelah tes usai. Sementara, jika dilakukan tes laboratorium hasilnya bisa didapatkan dalam sehari.

Hal ini disebutkan memudahkan social distancing atau physical distancing kepada masyarakat dan ada aplikasi peringatan terkait jarak dengan area terjangkit atau memasuki kawasan orang positif Covid-19.

"Sayangnya cuma Korea Selatan yang bisa begini," ujarnya.

Baca juga: Peneliti Kembangkan Model Matematika Baru untuk Lacak Epidemi Corona

3. Jerman

Jerman menjadi negara yang angka kematian akibat Covid-19 ini rendah. Hal ini dikarenakan, Jerman melakukan pemeriksaan secara signifikan atau dalam jumlah banyak.

Sehingga pasien-pasien yang memiliki gejala ringan infeksi virus corona atau sedang sekalipun bisa langsung mendapatkan penanganan secara tepat.

"Jerman melakukan testing (virus corona) banyak sekali. Matematika sederhananya, kalau perbanyak yang dites. Jadi angka kematiannya kecil karena kasus-kasus ringan teridentifikasi," ujar dia.

4. Inggris

Berbeda dengan Jerman, dalam mengatasi wabah Covid-19 ini, Inggris justru hanya memeriksa pasien yang memang membutuhkan bantuan medik. Makanya, tingkat fatality rate di Inggris lebih tinggi.

Selain itu, di Inggris juga menerapkan isolasi kepada kelompok rentan yang berusia diatas 60 tahun.

Baca juga: Data Membuktikan, Anak Muda Tidak Kebal Virus Corona

 

Sebab, seseorang yang berusia di atas 60 tahun jika terkena infeksi, maka komplikasi yang terjadi bisa lebih berat di mana memang telah memiliki komorbiditas lebih berat.

"Jadi jaga orang tua kita agar jangan sampai kena, dan bukan berarti yang (usia) muda tak masalah kena (infeksi). Tapi kalau anak muda yang kena, bisa menularkan ke orang tuannya juga, meski (anak muda itu) gak ada gejala," jelas dia.

Baca juga: Angka Kematian Akibat Virus Corona di Indonesia Tinggi, Apa Sebabnya?

5. China

Pentingnya Alat Pelindung Diri (APD)

APD ini sangat penting bagi tenaga kesehatan agar tidak mengalami transmisi virus corona yang bisa menular melalui droplet ke mukosa mata, hidung dan mulut.

"Pentingnya perlindungan petugas kesehatan jadi enggak tertular. Kalau tertular makin berkurang tenaga kesehatan yang bisa membantu pasien Covid-19," tuturnya.

Sehingga diharapkan bantuan pemerintah dan swasta untuk memberikan bantuan.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perilaku Unik Serangga, Capung Betina Pura-pura Mati Hindari Jantan

Perilaku Unik Serangga, Capung Betina Pura-pura Mati Hindari Jantan

Oh Begitu
Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Oh Begitu
3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

Fenomena
Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Fenomena
Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Oh Begitu
Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Fenomena
Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Oh Begitu
Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Fenomena
Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena
BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

Fenomena
Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Oh Begitu
Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Fenomena
CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Kita
Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
komentar
Close Ads X