Sangat Rendah, Indonesia Baru Manfaatkan 3 Persen Potensi Energi Terbarukan

Kompas.com - 31/03/2020, 12:10 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel) Senin, (15/1/2018). KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTOPembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel) Senin, (15/1/2018).

KOMPAS.com - Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih sangat rendah.

Padahal, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan hingga 442 gigawatt (GW), atau sekitar tujuh kali lipat dari kapasitas listrik yang telah terpasang di Indonesia. Namun, hingga saat ini total pemanfaatan energi terbarukan hanya 2.3 persen dari potensi yang ada.

Dalam media briefing Perlunya Perubahan Kebijakan Kelistrikan Di Tengah Pandemi Covid-19 dan Krisis Iklim, Senin (30/3/20), Berly Martawardaya, Direktur Riset INDEF sekaligus Dosen FEB Universitas Indonesia (UI), berkata bahwa tingkat konsumsi listrik di Indonesia masih berada di bawah Malaysia dan Thailand.

Jika mengingat target Indonesia yang ingin meningkatkan perekonomian industri di luar pulau Jawa, target ini akan sulit dicapai jika produksi dan pendistribusian listrik belum dilakukan secara merata.

Baca juga: PLTU Baru Makin Tingkatkan Potensi Emisi Gas Rumah Kaca, Kok Bisa?

Seperti di Indonesia bagian timur yang efisiensi elektrifikasinya hanya sekitar delapan jam, jauh berbeda dengan Jakarta yang dapat menggunakan listrik selama 24 jam penuh.

Menurut paparan Adila Isfandiari, peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Pemerintah Indonesia menggunakan skema "take or pay" dalam Perjanjian Jual Beli Listrik. Jadi, hingga saat ini listrik di Indonesia disediakan oleh pihak swasta.

Namun, Indonesia justru fokus pada pembangunan PLTU batubara untuk menangani kapasitas pembangkit listrik. Berdasarkan data Handbook Of Energy & Economic Statistics Of Indonesia (HEESI) tahun 2018, batubara menguasai komposisi pembangkit listrik di Indonesia hingga 50 persen.

Padahal dari segi harga, pemanfaatan energi terbarukan di tren global telah mengalami penurunan harga hingga 80 persen dalam sembilan tahun terakhir. Di Indonesia sendiri, penurunan harga energi terbarukan mencapai 50 persen terhitung sejak 2014.

Baca juga: Pembangunan PLTU Celukan Bawang II Ditentang, Ada Apa?

Lebih lanjut Adila menjelaskan bahwa nilai investasi energi surya per megawatt (MW) pada 2021 akan lebih murah dibanding investasi pembangunan PLTU baru.

Tidak hanya itu, pada 2030 nanti, membangun pembangkit listrik tenaga surya akan lebih murah daripada mengoperasikan PLTU yang sudah ada.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X