Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 07/12/2022, 12:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dinilai masih ragu-ragu menetapkan target penurunan emisi dan bermain di zona aman.

Adapun Indonesia telah menyampaikan dokumen Enhanced Nationally Determined Contributions (NDCs) dengan meningkatkan target penurunan emisi gas rumah kaca hanya sekitar 2 persen.

Institute for Essential Services Reform (IESR) yang merupakan anggota dari Climate Action Tracker (CAT) menemukan bahwa kenaikan tipis target NDC Indonesia tersebut masih tidak mencukupi untuk mencegah kenaikan suhu global 1,5 derajat celcius.

"Untuk selaras dengan ambisi 1,5 derajat celcius, emisi dari sektor energi pada 2030 harus setara dengan tingkat emisi dari sektor energi 2010," kata Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa pada peluncuran hasil penilaian CAT terhadap aksi dan kebijakan iklim Indonesia, Selasa (6/12/2022).

Padahal Indonesia mempunyai potensi energi terbarukan yang melimpah, bahkan hingga lebih dari 7 TW. Indonesia dapat memanfaatkannya menjadi sumber energi yang minim emisi.

Baca juga: Gratis untuk Masyarakat, PLTU di Babel Hasilkan 1.950 Ton FABA Per Bulan

Agar mencapai penurunan emisi yang signifikan, Indonesia perlu melakukan mitigasi yang lebih ambisius di sektor penghasil emisi dominan yakni energi, dan hutan dan lahan. Termasuk dengan mengurangi operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Berdasarkan riset, bauran energi terbarukan di sistem energi Indonesia masih 13,5 persen hingga 2021.

Dengan beberapa perkembangan dukungan internasional dan komitmen pemerintah terhadap pensiun dini PLTU batubara akan memberikan ruang yang leluasa bagi pengembangan energi terbarukan.

Sehingga, pengembangan energi terbarukan dapat mencapai target 23 persen pada 2025, bahkan mencapai 40 persen pada 2030.

Koordinator CAT IESR Delima Ramadhani menjelaskan, dominasi PLTU batubara yang saat ini sekitar 61 persen di sistem energi Indonesia perlu dikurangi secara signifikan menjadi hanya 10 persen PLTU batubara yang tidak menggunakan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon pada 2030.

Baca juga: Waduk Terbesar Kedua di Indonesia Diprediksi Akan Kena Dampak Perubahan Iklim

Dan kemudian secara bertahap, operasional PLTU bisa dihentikan seluruhnya hingga tahun 2040.

"Target NDC dengan bantuan internasional juga harus konsisten, setidaknya dengan jalur optimal dengan biaya terendah untuk ambisi 1,5 derajat celcius,” jelas Delima.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+