Kompas.com - 02/09/2021, 16:00 WIB
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menuntaskan salah satu pekerjaan struktur layang atau elevated Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). KCICPT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menuntaskan salah satu pekerjaan struktur layang atau elevated Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT KAI (Persero) Salusra Wijaya mengatakan kebutuhan investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) membengkak atau mengalami cost overrun (kelebihan biaya) menjadi 8 miliar dolas AS atau setara Rp 114,24 triliun.

Menurut Salusra, estimasi tersebut turun dari perkiraan pembengkakan awal mencapai 8,6 miliar dolar AS atau Rp 122,8 triliun hingga 11 miliar dolar AS atau Rp 156,8 triliun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jadi perkiraan awalnya itu akan berkembang menjadi 8,6 miliar dolar AS yaitu waktu dibuat estimasinya pada November 2020 oleh konsultan PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) dan estimasi konsultan PSBI itu bahkan mencapai antara 9,9 miliar dolar AS hingga 11 miliar dolar AS," kata Direktur Keuangan & Manajemen Risiko KAI Salusra Wijaya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR, Rabu (1/9/21).

Salusra menjelaskan biaya awal pembangunan KCJB adalah 6,07 miliar dolar atau sekitar Rp 86,5 triliun.

Baca juga: Uji Coba November 2022, Progres Kereta Cepat Jakarta-Bandung 74 Persen

Dengan adanya perkiraan pembengkakan angaran mencapai 8 miliar dolar AS artinya terdapat kenaikan sekitar 1,9 miliar dolar AS atau setara Rp 27,09 triliun.

"Jadi ada kenaikan kira-kira 1,9 miliar dolar AS dengan komposisi yaitu Engineering, Procurement and Construction (EPC) dan Non-EPC 80 persen banding 20 persen," jelasnya.

Salursa mengaku telah melakukan pergantian manajemen PT KCIC sebagai upaya untuk melakukan efisiensi dan menekan cost overrun.

Beberapa efisiensi yang dilakukan untuk menekan cost overrun yaitu mulai dari memangkas biaya, relokasi pembangunan stasiun, pengelolaan Transit Oriented Development (TOD) dan lainnya.

"Dengan new management, Kami berhasil melakukan beberapa efisiensi cost cutting, termasuk efisiensi dalam pengelolaan TOD, relokasi stasiun dan yang lainnya. Alhamdulillah bisa ditekan anggarannya menjadi 8 miliar dolar AS," ujarnya.

Berdasarkan riset yang dilakukan, cost overrun tidak hanya terjadi pada proyek kereta cepat di Indonesia. Hal tersebut juga dialami pada berbagai proyek kereta cepat di dunia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.