Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Beberkan Karut Marut Rumah Subsidi

Kompas.com - 15/06/2021, 17:10 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Eko D Heripoerwanto membeberkan sejumlah permasalahan program KPR bersubsidi.

Masalah itu di antaranya adalah tidak tepat sasaran, minim fasilitas, tidak ada akses transportasi, menyalahir tata ruang, hingga ditemukannya rumah KPR bersubsidi yang tidak sesuai standar atau bahkan tidak layak huni.

Menurut Eko, temuan tersebut berdasarkan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Inspektorat Jenderal (ITJEN) Kementerian PUPR.

"Jadi kami menerima laporan dari hasil auditor itu setidaknya ada beberapa temuan utama yang menjadi masalah untuk KPR bersubsidi ini," kata Eko dalam diskusi virtual, Selasa (15/06/2021).

Eko menjelaskan, salah satu yang menjadi masalah yaitu kurangnya sosialisasi dalam penghunian rumah bersubsidi baik untuk rumah subsidi tapak ataupun susun.

Baca juga: Hingga Juni 2021, Realisasi Subsidi Rumah FLPP Baru 76.222 Unit

"Misalnya tidak semua debitur itu mengetahui bahwa rumah harus dihuni dalam satu tahun tidak boleh lebih. Nah, ini mestinya perbankan menyampaikan itu baik jelang ataupun pada saat proses akad kredit," jelasnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akibat sosialisasi yang minim, konsumen akhirnya kaget karena tidak tahu terdapat aturan tersebut.

idak ditempatinya rumah tersebut oleh konsumen menandakan bahwa tidak tepatnya sasaran pemberian rumah subsidi.

"Jadi yang butuh rumah subsidi itu banyak tapi tidak dihuni jadi kami menganggap bahwa itu salah satu ketidaktepatan sasaran," sebut Eko.

Alasan lain kenapa rumah susbidi tidak segera ditempatu adalah prasarana belum lengkap, air sulit didapat, prasarana dan sarana umum (PSU) minim, tidak adanya akses trasnportasi umum dan lain-lain.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X