Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Thailand Nyatakan Siap Tampung 100.000 Orang yang Melarikan Diri dari Myanmar

Kompas.com - 09/04/2024, 15:58 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber AFP

BANGKOK, KOMPAS.com - Thailand pada Selasa (9/4/2024) menyatakan siap menerima 100.000 orang yang melarikan diri dari Myanmar.

Thailand bagaimanapun berbagi perbatasan sepanjang 2.400 km dengan Myanmar, yang telah terlibat dalam perang saudara sejak junta militer menggulingkan pemerintah yang terpilih secara demokratis pada 2021.

Dalam beberapa bulan terakhir, Militer Myanmar menghadapi ancaman terburuknya karena pertempuran dari kelompok-kelompok anti-junta yang melanda daerah-daerah yang sebelumnya damai di negara itu.

Baca juga: Myanmar-China Tangkap 800 Lebih Tersangka Penipu Online, Dari Mana Saja Mereka?

"Kami telah mempersiapkan diri untuk sementara waktu dan kami dapat menampung sekitar 100.000 orang di wilayah aman Thailand untuk sementara waktu," ujar Menteri Luar Negeri Thailand, Parnpree Bahiddha-Nukara, dikutip dari AFP.

Thailand bukan penandatangan Konvensi Pengungsi PBB, dan tidak membedakan antara pengungsi dan migran lainnya. 

Selama akhir pekan lalu, ada laporan lokal mengenai terjadinya bentrokan sengit di seputaran Kota Myawaddy di Myammar, yang berada di seberang Kota Mae Sot di Thailand.

Lonjakan bentrokan di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar telah dilaporkan belakangan ini.

Bentrokan itu pun pada akhirnya mendorong sejumlah warga Myanmar terpaksa memilih mengungsi sementara ke Thailand, sebelum akhirnya kembali.

"Meskipun tidak ada evakuasi massal, orang-orang berdatangan melintasi perbatasan," jelas Parnpree kepada wartawan.

Namun, ia menekankan bahwa perbatasan Thailand-Myanmar tetap terbuka, dan bahwa perdagangan masih mengalir melalui Mae Sot dan masuk ke Myawaddy.

"Perdagangan masih berjalan, meskipun menurun," katanya.

Menurut Parnpree perdagangan telah turun sekitar 30 persen pada tahun lalu.

Myawaddy tercatat adalah penyeberangan darat tersibuk ketiga di Myanmar, dengan sekitar 1,1 miliar dollar AS barang yang melintas selama 12 bulan terakhir.

Sebelumnya, Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin dan para pejabat tinggi lainnya sempat bertemu untuk membahas masalah perbatasan.

Baca juga: Dampak Perang Saudara Myanmar Sampai ke Bangladesh

"Perdana menteri khawatir jika situasi menjadi lebih buruk," kata Parnpree.

Hal ini terjadi setelah pemerintah Thailand mengatakan pada Senin (8/4/2024), telah mengabulkan permintaan dari junta militer Myanmar untuk mendaratkan tiga penerbangan "khusus" di kerajaan untuk memulangkan orang-orang.

Namun, sejak tahun 1980-an, kerajaan telah mengizinkan puluhan ribu orang yang melarikan diri dari Myanmar untuk tinggal di pemukiman-pemukiman informal di dekat perbatasan.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Motif Penembakan PM Slovakia Akhirnya Terungkap

Motif Penembakan PM Slovakia Akhirnya Terungkap

Global
Implikasi Geopolitik Timur Tengah Pasca-Kecelakaan Helikopter Presiden Iran

Implikasi Geopolitik Timur Tengah Pasca-Kecelakaan Helikopter Presiden Iran

Global
Kebakaran di Apartemen Hanoi, 14 Orang Tewas

Kebakaran di Apartemen Hanoi, 14 Orang Tewas

Global
Putri Remajanya Marah, Ayah Ini Berlutut Minta Maaf Tak Mampu Belikan iPhone

Putri Remajanya Marah, Ayah Ini Berlutut Minta Maaf Tak Mampu Belikan iPhone

Global
Rangkuman Hari Ke-820 Serangan Rusia ke Ukraina: Putin Izinkan Penyitaan Aset AS | Polandia dan Yunani Serukan UE Ciptakan Perisai Pertahanan Udara

Rangkuman Hari Ke-820 Serangan Rusia ke Ukraina: Putin Izinkan Penyitaan Aset AS | Polandia dan Yunani Serukan UE Ciptakan Perisai Pertahanan Udara

Global
Saat Ratusan Ribu Orang Antar Presiden Iran Ebrahim Raisi ke Tempat Peristirahatan Terakhirnya...

Saat Ratusan Ribu Orang Antar Presiden Iran Ebrahim Raisi ke Tempat Peristirahatan Terakhirnya...

Global
Arab Saudi Setop Keluarkan Izin Umrah untuk Berlaku Sebulan

Arab Saudi Setop Keluarkan Izin Umrah untuk Berlaku Sebulan

Global
Kerusuhan dan Kekerasan Terjadi di Kaledonia Baru, Apa yang Terjadi?

Kerusuhan dan Kekerasan Terjadi di Kaledonia Baru, Apa yang Terjadi?

Global
[POPULER GLOBAL] 20 Penumpang Singapore Airlines di ICU | Israel Kian Dikucilkan

[POPULER GLOBAL] 20 Penumpang Singapore Airlines di ICU | Israel Kian Dikucilkan

Global
 Pertama Kali, Korea Utara Tampilkan Foto Kim Jong Un Beserta Ayah dan Kakeknya

Pertama Kali, Korea Utara Tampilkan Foto Kim Jong Un Beserta Ayah dan Kakeknya

Global
Penumpang Singapore Airlines Dirawat Intensif, 22 Cedera Tulang Belakang, 6 Cedera Tengkorak

Penumpang Singapore Airlines Dirawat Intensif, 22 Cedera Tulang Belakang, 6 Cedera Tengkorak

Global
Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk, Operasi Kemanusiaan Hampir Gagal

Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk, Operasi Kemanusiaan Hampir Gagal

Global
Nikki Haley, Saingan Paling Keras Trump Berbalik Arah Dukung Trump

Nikki Haley, Saingan Paling Keras Trump Berbalik Arah Dukung Trump

Global
Rusia Serang Kharkiv, Ukraina Evakuasi 10.980 Orang

Rusia Serang Kharkiv, Ukraina Evakuasi 10.980 Orang

Global
Menerka Masa Depan Politik Iran Setelah Kematian Presiden Raisi

Menerka Masa Depan Politik Iran Setelah Kematian Presiden Raisi

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com