KYIV, KOMPAS.com – Pasukan Ukraina mengaku berhasil merebut Kota Lyman dari tangan tentara Rusia pada Sabtu (1/10/2022).
Perebutan itu terjadi selang sehari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin resmi mencaplok empat wilayah Ukraina, termasuk Donetsk, wilayah di mana Lyman berada.
Pencaplokan Rusia tersebut menempatkan wilayah yang dicaplok berada di bawah payung senjata nuklir Rusia.
Baca juga: Pasukan Ukraina Kepung Ribuan Tentara Rusia di Kota Lyman
Wakil Kepala Kantor Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengunggah video yang merekam klaim pasukan Ukraina di luar Gedung Dewan Kota di pusat Lyman.
“Rakyat Ukraina yang terhormat, hari ini angkatan bersenjata Ukraina membebaskan dan menguasai Lyman, wilayah Donetsk,” kata salah satu tentara Ukraina.
Di akhir video, sekelompok tentara Ukraina melemparkan bendera Rusia dari atap gedung dan mengibarkan bendera Ukraina.
Beberapa jam sebelum klaim itu dibuat, pasukan Ukraina mengepung ribuan tentara Rusia di Kota Lyman, sebagaimana dilansir Reuters.
Baca juga: Rusia Konfirmasi Berhasil Rebut Kota Lyman di Ukraina Timur
Kota Lyman merupakan benteng penting bagi Moskwa yang digunakan Rusia sebagai pusat logistik dan transportasi untuk operasinya di utara wilayah Donetsk.
Bila Kota Lyman jatuh, itu akan menjadi kemunduran besar baru bagi Kremlin dalam upayanya menduduki semua wilayah industri Ukraina timur alias Donbass.
Sementara itu, Zelensky menjanjikan keberhasilan yang lebih cepat di Donbass, mencakup wilayah Donetsk dan Luhansk yang sebagian besar masih berada di bawah kendali Rusia.
“Selama sepekan terakhir, jumlah bendera Ukraina yang berkibar di Donbass telah meningkat. Akan ada lebih banyak (wilayah yang direbut) dalam sepekan,” ujar Zelensky dalam pidato Sabtu malam.
Baca juga: Separatis Pro-Rusia Klaim Rebut Lyman, Kota Strategis di Ukraina Timur
Zelensky menambahkan, pasukan Ukraina telah merebut Desa Torske, di jalan utama keluar dari Lyman ke timur.
Keberhasilan Ukraina baru-baru ini membuat marah sekutu Putin seperti Ramzan Kadyrov, pemimpin daerah otonom Chechnya Rusia.
“Menurut pendapat pribadi saya, tindakan yang lebih drastis harus diambil, hingga deklarasi darurat militer di daerah perbatasan dan penggunaan senjata nuklir berdaya rendah,” tulis Kadyrov di Telegram.
Pejabat tinggi lainnya, termasuk mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, juga menyarankan Moskwa mungkin perlu menggunakan senjata nuklir.
Pekan lalu, Putin mengatakan bahwa dia tidak menggertak saat dia mengumumkan akan mempertahankan “integritas teritorial” Rusia dengan segala cara yang ada.
Baca juga: Menerka Langkah Putin Selanjutnya setelah Caplok 4 Wilayah Ukraina
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.