Kompas.com - 25/09/2022, 20:01 WIB

MANILA, KOMPAS.com - 21 September 2022 menandai 50 tahun pemberlakuan darurat militer oleh eks-diktatur Filipina, Ferdinand Marcos. Peringatan tahun ini dibayangi upaya putranya, Marcos Jr menghapus sejarah kekejaman sang ayah.

Bagi bekas tahanan politik, aktivis atau tokoh oposisi, peringatan tahun ini digelar dalam kesenduan. "Menonton berita yang menyebut seorang putra diktatur sebagai presiden membuat saya jijik,” kata Bonifacio Illagan yang pernah disiksa selama dua tahun di penjara karena memrotes rezim Marcos.

Bekas aktivis mahasiswa pada dekade 1970-an itu masih mengingat jelas bagaimana aparat keamanan menggeledah kantor harian bawah tanah yang dia ikut dirikan. Putrinya, Rizalina, menghilang setelah ditahan. Hingga kini namanya masih terukir di Monumen Pahlawan di Manila bersama 300 nama lain.

Baca juga: Perang Melawan Narkoba di Filipina Tak Akan Berhenti, tapi Caranya Berbeda

Illagan menggambarkan kemenangan Ferdinand "Bongbong” Marcos Jr pada pemilu Mei silam sebagai sebuah mimpi buruk. Kini, dia khawatir ingatan terhadap pengorbanan generasi revolusi akan menyurut seiring kekuasaan Bongbong Marcos.

"Kami tetap bertekad mencari kebenaran dan keadilan. Saya menghabiskan lebih dari separuh hidup untuk pergulatan ini. Saya kira saya tahu apa konsekuensinya,” kata Illagan yang kini aktif di organisasi Kampanye Melawan Kembalinya Dinasti Marcos dan Darurat Militer (CARMMA). "Sejarah dan kesadaran masih menjadi arena pelawanan.”

Menurut Amnesty International, selama dua dekade darurat militer di bawah Marcos, sekitar 70.000 warga didakwa subversi, lebih dari 34.000 mengaku disiksa, dan lebih dari 3.000 tewas dalam pembunuhan tanpa pengadilan.

Baca juga: Puing Roket China Jatuh di Filipina, tapi Belum Ada Penampakannya

Bukan sekadar sejarah

Kembalinya dinasti Marcos ke Istana Malacanang dimungkinkan pemilih muda yang berjumlah 65 juta orang. Sebagian besar lahir setelah Revolusi Rakyat 1986 dan tidak pernah mengalami kehidupan di bawah darurat militer.

Sebabnya menjadi angin segar ketika pada 18 September lalu, sayap pemuda Partai Aksi Rakyat Akbayan, mengadakan tur sejarah untuk mengingat situasi kelam di bawah rezim Marcos. Mereka juga membahas harta korupsi Marcos yang ditaksir masih berjumlah sebesar 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 30 triliun.

"Kegiatan seperti ini menjadi lebih penting sekarang,” kata Ketua Pemuda Akbayan RJ Naguit kepada DW. "Sejarah bukan lagi sekedar pelajaran, tetapi berdampak nyata bagi kehidupan warga Filipina.”

Pria berusia 27 tahun itu menolak asumsi bahwa kaum muda buta sejarah dan sebabnya bertanggungjawab atas kembalinya keluarga Marcos.

Baca juga: Kisah 3 Bom Nuklir AS yang Hilang dan Belum Ditemukan, Salah Satunya di Filipina

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Manusia Laba-laba di Dunia Nyata, Pernah Ngotot Panjat Burj Khalifa Tanpa Pengaman

Kisah Manusia Laba-laba di Dunia Nyata, Pernah Ngotot Panjat Burj Khalifa Tanpa Pengaman

Global
Akhir Naas Pria Tertinggi dalam Sejarah Dunia

Akhir Naas Pria Tertinggi dalam Sejarah Dunia

Global
Ratusan Rohingya Terdampar di Kapal Bocor Lepas Pantai Thailand, Begini Kondisinya

Ratusan Rohingya Terdampar di Kapal Bocor Lepas Pantai Thailand, Begini Kondisinya

Global
Ekstrimis Sayap Kanan Berencana Ubah Tatanan Jerman dengan Kekerasan

Ekstrimis Sayap Kanan Berencana Ubah Tatanan Jerman dengan Kekerasan

Global
Logo Anti-lockdown China Dipasarkan Disney, Tunjukkan Beruang Pooh Cemberut dengan Kertas Kosong

Logo Anti-lockdown China Dipasarkan Disney, Tunjukkan Beruang Pooh Cemberut dengan Kertas Kosong

Global
Bukan Pertama Kali, Insiden Jatuh ke Sumur Bor Pernah Timpa Bocah Bisu Tuli India, 105 Jam Terjebak Bersama Ular

Bukan Pertama Kali, Insiden Jatuh ke Sumur Bor Pernah Timpa Bocah Bisu Tuli India, 105 Jam Terjebak Bersama Ular

Global
B-21 Raider, Pesawat Pembom Nuklir Generasi Terbaru Dipamerkan AS, Bisa Terbang Tanpa Awak

B-21 Raider, Pesawat Pembom Nuklir Generasi Terbaru Dipamerkan AS, Bisa Terbang Tanpa Awak

Global
Upaya Kudeta di Jerman, Polisi Tangkap 25 Orang dalam Operasi Anti-teror di Seluruh Negeri

Upaya Kudeta di Jerman, Polisi Tangkap 25 Orang dalam Operasi Anti-teror di Seluruh Negeri

Global
Dubes Swedia Optimis Investasi ke Indonesia Tetap Bisa Berkembang di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Dubes Swedia Optimis Investasi ke Indonesia Tetap Bisa Berkembang di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Global
Bocah India Jatuh ke Sumur Bor Sedalam 122 Meter, 16 Jam Penyelamatan Belum Membuahkan Hasil

Bocah India Jatuh ke Sumur Bor Sedalam 122 Meter, 16 Jam Penyelamatan Belum Membuahkan Hasil

Global
Kancah Musik Elektronik Arab Saudi: Meledak Tak Terbendung, Akhiri Era Konservatif

Kancah Musik Elektronik Arab Saudi: Meledak Tak Terbendung, Akhiri Era Konservatif

Global
Hakim AS Tolak Gugatan Pembunuhan Khashoggi ke MBS

Hakim AS Tolak Gugatan Pembunuhan Khashoggi ke MBS

Global
Borong 300 iPhone, Pria Ini Langsung Dirampok saat Keluar Toko

Borong 300 iPhone, Pria Ini Langsung Dirampok saat Keluar Toko

Global
Arahan Darurat Gubenur Maryland AS Larang Penggunaan TikTok

Arahan Darurat Gubenur Maryland AS Larang Penggunaan TikTok

Global
Suporter Sepak Bola, Instrumen 'Soft Power Diplomacy' ala Jepang

Suporter Sepak Bola, Instrumen "Soft Power Diplomacy" ala Jepang

Global
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.