PBB Peringatkan Korea Utara Memulai Kembali Program Nuklir dengan Kecepatan Penuh

Kompas.com - 21/09/2021, 20:04 WIB
Foto ini disediakan oleh pemerintah Korea Utara Kamis, 16 September 2021, menunjukkan uji coba rudal yang diluncurkan dari kereta api pada 15 September 2021 di lokasi yang dirahasiakan Korea Utara. KCNA via KNS via APFoto ini disediakan oleh pemerintah Korea Utara Kamis, 16 September 2021, menunjukkan uji coba rudal yang diluncurkan dari kereta api pada 15 September 2021 di lokasi yang dirahasiakan Korea Utara.

NEW YORK, KOMPAS.com - PBB memperingatkan Korea Utara memulai kembali program nuklir dengan kecepatan penuh dengan sebuah reaktor menghasilkan plutonium untuk nuklir.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bulan lalu memperingatkan aktivitas di sekitar reaktor lima megawatt di kompleks nuklir utama negara itu di Yongbyon.

Baca juga: Gambar Satelit Tangkap Aktivitas Korea Utara Memperluas Fasilitas Nuklir Yongbyon

Reaktor ini menghasilkan plutonium, salah satu dari dua bahan utama yang digunakan untuk membuat bom bersama dengan uranium yang diperkaya.

“Di Republik Demokratik Rakyat Korea, program nuklir berjalan dengan kecepatan penuh dengan bekerja pada pemisahan plutonium, pengayaan uranium dan kegiatan lainnya,” kata Kepala IAEA Rafael Grossi melansir Daily Mail pada Senin (20/9/2021).

Korea Utara pekan lalu meluncurkan rudal balistik dari belakang kereta api dalam unjuk kekuatan terbarunya, setelah Korea Selatan melakukan peluncuran pertama yang sukses dari rudal balistik yang diluncurkan kapal selam (SLBM).

Sementara itu, Pyongyang mendukung sekutunya China dengan memperingatkan bahwa pakta keamanan baru antara AS, Inggris dan Australia, dapat memicu “perlombaan senjata nuklir”.

Kementerian luar negeri Kim Jong Un mengecam aliansi Aukus sebagai aliansi yang akan “mengganggu keseimbangan strategis di kawasan Asia-Pasifik dan memicu rantai perlombaan senjata nuklir.”

Hubungan strategis baru, Inggris dan AS, sepakat untuk berbagi teknologi kapal selam nuklir dengan Australia.

Kesepakatan itu dilihat secara luas sebagai upaya untuk melawan ekspansi China di Laut China Selatan. Sementara Beijing adalah salah satu dari sedikit sekutu Korea Utara di kawasan itu.

Baca juga: Korea Utara: AS Punya Standar Ganda Soal Rudal

Korea Utara menangguhkan pengujian bom nuklir dan rudal balistik jarak antarbenua yang dapat menghantam daratan AS pada 2018, ketika Kim memulai diplomasi dengan mantan Presiden AS Donald Trump.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.