Kompas.com - 01/06/2021, 08:32 WIB
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, berbicara dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Dalam Negeri dan Kesehatan Swiss, Alain Berset (tidak ada di foto), sebelum menandatangani BioHub Initiative di laboratorium Spiez, jelang pembukaan Majelis Kesehatan Dunia ke-74 di markas besar WHO, Jenewa, Swiss, pada Senin (24/5/2021). KEYSTONE/LAURENT GILLIERON via AP PHOTODirektur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, berbicara dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Dalam Negeri dan Kesehatan Swiss, Alain Berset (tidak ada di foto), sebelum menandatangani BioHub Initiative di laboratorium Spiez, jelang pembukaan Majelis Kesehatan Dunia ke-74 di markas besar WHO, Jenewa, Swiss, pada Senin (24/5/2021).

JENEWA, KOMPAS.com - Anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepakat pada Senin (31/5/2021) untuk memperkuat respons pandemi serta memberikan pendanaan lebih aman dan fleksibel untuk dapat menangani wabah lebih baik di masa depan.

Ada 194 negara anggota yang menyepakati resolusi tersebut yang disampaikan dalam pertemuan Majelis tahunan WHO pada Senin (31/5/2021) secara virtual.

Dalam pertemuan tersebut, mereka juga sepakat untuk "memperkuat kapasitas WHO untuk meninjau wabah penyakit dengan cepat dan tepat" yang mungkin menjadi perhatian global, seperti yang dilansir dari AFP pada Senin (31/5/2021).

Baca juga: Masih Dilanda Kudeta, Myanmar Tak Diundang ke Rapat Tahunan WHO

Sejumlah negara dan institusi sangat tidak siap menghadapi Covid-19, menurut temuan tiga panel independen yang telah melaporkan dalam majelis WHO tersebut.

Mereka menyerukan perombakan total sistem alarm global, untuk WHO lebih kuat dan lebih independen agar dapat membantu mencegah pandemi di masa depan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satu laporan menemukan bahwa badan PBB terlalu lambat dalam menyatakan Darurat Kesehatan Masyarakat yang menjadi Perhatian Internasional.

Baca juga: AS Desak WHO Transparan soal Investigasi Asal-usul Covid-19

WHO baru membunyikan level siaga tinggi pada 30 Januari 2020.

Setelah berhari-hari berdiskusi, para anggota sepakat untuk membentuk kelompok kerja baru yang akan mempelajari dan menyederhanakan berbagai rekomendasi dalam laporan, serta membuat proposal konkret untuk dipertimbangkan dalam sidang tahun depan.

Teks tersebut menyerukan negara-negara anggota untuk "memastikan pembiayaan yang memadai, fleksibel, berkelanjutan dan dapat diprediksi dari anggaran program WHO."

Hanya sekitar 16 persen dari anggaran WHO berasal dari biaya keanggotaan reguler, dengan sisanya berasal dari kontribusi sukarela dan yang telah dialokasikan.

Baca juga: WHO Peringatkan Covid-19 Tahun Ini Bakal Lebih Parah

Halaman:

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.