Bashar Al-Assad Dipastikan Menang Pemilu Palsu Suriah meski Perang Saudara dan Kemiskinan Merajalela

Kompas.com - 25/05/2021, 05:30 WIB
Seorang pria Suriah yang tinggal di Lebanon berdiri di dalam tempat pemungutan suara menandai surat suaranya di bawah potret presiden Suriah Bashar Assad dengan kata Arab berbunyi: Kami berkorban untukmu, saat dia bersiap untuk memberikan suara untuk pemilihan presiden negaranya di Kedutaan Besar Suriah di Yarze, sebelah timur Beirut, Lebanon, Kamis, 20 Mei 2021. AP PHOTO/HUSSEIN MALLASeorang pria Suriah yang tinggal di Lebanon berdiri di dalam tempat pemungutan suara menandai surat suaranya di bawah potret presiden Suriah Bashar Assad dengan kata Arab berbunyi: Kami berkorban untukmu, saat dia bersiap untuk memberikan suara untuk pemilihan presiden negaranya di Kedutaan Besar Suriah di Yarze, sebelah timur Beirut, Lebanon, Kamis, 20 Mei 2021.

DAMASCUS, KOMPAS.com - Warga Suriah akan kembali ke tempat pemungutan suara, pada Rabu (26/5/2021).

Tapi proses demokrasi itu dituding hanyalah pertunjukan palsu. Sebab sejak awal sudah dirancang untuk memberikan legitimasi kepada presiden, baik di dalam maupun di luar negeri.

Guardian pada Minggu (23/5/2021) melaporkan bahwa hasil pemilu diyakini hampir pasti kembali dimenangkan oleh Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Baca juga: 3 Roket Diluncurkan dari Suriah ke Israel, Pertempuran Dikhawatirkan Meluas

Terakhir kali Suriah mengadakan pemilihan presiden, pada 2014, kemenangannya juga sudah diprediksi. Tapi, kekuatan oposisi yang mengendalikan kota-kota di negara itu serta pinggiran Damaskus, membuat sejumlah pihak sedikit banyak berharap adanya perubahan.

“Pada 2014 suasananya berbeda. Assad masih bisa kalah. Tapi sekarang warga Suriah yang masih di negara itu atau yang sudah pergi, tahu bahwa tidak akan ada penggulingan militer,” kata Suhail al-Ghazi, seorang peneliti Suriah dan rekan non-residen di Institut Tahrir untuk Kebijakan Timur Tengah kepada Guardian.

Tujuh tahun kemudian, setelah sekutu rezim Rusia dan Iran campur tangan dan mengubah gelombang perang, sebagian besar Suriah sekarang kembali di bawah cengkeraman Assad.

Alhasil, menurutnya pemilu mendatang akan digunakan oleh rezim dan Rusia untuk menunjukkan bahwa mereka menang. Mereka lalu akan mengklaim Suriah aman, sehingga pengungsi dapat kembali.

“Pemilu juga merupakan faktor dalam ‘merehabilitasi’ rezim di antara negara-negara Arab, dan mungkin Liga Arab.”

Baca juga: Tentara Rusia dan Turki Gelar Patroli Bersama di Suriah

Dinasti politik Assad

Suriah telah diperintah oleh keluarga Assad sejak 1970. Setelah itu parlemen dan pemerintah dilucuti dari banyak kekuatan pengambilan keputusan.

Posisi penting pemerintah diisi dengan loyalis saat partai Ba'ath, yang bekerja untuk mengonsolidasikan status Assad sebagai "pemimpin negara dan masyarakat."

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Guardian
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.