Kompas.com - 22/06/2020, 15:10 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) dan Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dalam sebuah pertemuan di wilayah keamanan bersama (JSA) Panmunjom di zona demiliterisasi (DMZ) Korea, Minggu (30/6/2019). Kedatangan Trump ke zona demiliterisasi Korea awalnya diagendakan untuk pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, namun Presiden Moon mengatakan fokus akan lebih kepada pertemuan Trump dengan Kim Jong Un. AFP/BRENDAN SMIALOWSKIPemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) dan Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dalam sebuah pertemuan di wilayah keamanan bersama (JSA) Panmunjom di zona demiliterisasi (DMZ) Korea, Minggu (30/6/2019). Kedatangan Trump ke zona demiliterisasi Korea awalnya diagendakan untuk pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, namun Presiden Moon mengatakan fokus akan lebih kepada pertemuan Trump dengan Kim Jong Un.

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan (Korsel) melontarkan kecaman setelah mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, mengungkap narasi soal Kim Jong Un dan Presiden Donald Trump.

Dalam bukunya, The Room Where it Happened, Bolton menjabarkan seperti apa peran Trump maupun Presiden Korsel Moon Jae-in dalam pertemuan dengan Kim.

Buku itu terutama membahas Penasihat Keamanan Korea Selatan, Chung Eui-yong, menuturkan Pemimpin Korea Utara itu ingin menemui Trump.

Baca juga: Kim Jong Un Disebut Tertawakan Trump

Begitu pemberitaan mengenai buku itu keluar, Chung mengklarifikasi isi dalam buku John Bolton "tidak menyampaikan fakta dengan akurat".

Menurut penasihat Moon, sebagian besar isinya mengesampingkan banyak fakta. Namun, dia tidak memberikan detil apa saja bagian yang dia anggap tak akurat itu.

Chung menyatakan, menjabarkan detil dalam perundingan denuklirisasi merupakan "bentuk pelanggaran dari prinsip diplomatik dasar".

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, buku yang ditulis Bolton tersebut "bakal membahayakan kepentingan kedua pihak di masa depan", seperti dikutip AFP Senin(22/6/2020).

Sementara Cheong Wa Dai atau Gedung Biru, kantor kepresidenan Korsel, mengecam buku itu karena sudah "membelokkan fakta dengan prasangka dan bias".

Dalam bukunya, Bolton mengklaim presiden 74 tahun itu tidak siap untuk bertemu secara perdana dengan Kim di Singapura pada Juni 2018.

Baca juga: Trump Terobsesi Kirim CD Elton John untuk Kim Jong Un

Namun, dia berharap pertemuan tersebut akan menjadi "teater epik". Mantan Duta Besar AS untuk PBB itu juga mengkritik Moon.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Swiss Kaporkan Kemungkinan Kasus Varian Omicron Pertama

Swiss Kaporkan Kemungkinan Kasus Varian Omicron Pertama

Global
Sejarah Negara Israel

Sejarah Negara Israel

Internasional
Waspadai Varian Omicron, Filipina Vaksinasi 9 Juta Orang dalam 3 Hari

Waspadai Varian Omicron, Filipina Vaksinasi 9 Juta Orang dalam 3 Hari

Global
Sektor Pariwisata Global Kehilangan Rp 28,6 Kuadriliun Sepanjang Pandemi 2021

Sektor Pariwisata Global Kehilangan Rp 28,6 Kuadriliun Sepanjang Pandemi 2021

Global
Presiden Taiwan: Eropa dan Taipei Harus Pertahankan Demokrasi Bersama

Presiden Taiwan: Eropa dan Taipei Harus Pertahankan Demokrasi Bersama

Global
5 Kapal Induk Lawas yang Terbukti Ampuh dalam Pertempuran

5 Kapal Induk Lawas yang Terbukti Ampuh dalam Pertempuran

Internasional
Inilah Gambar 3D Pertama Covid-19 Varian Omicron, Tampak Lebih Banyak Mutasi daripada Delta

Inilah Gambar 3D Pertama Covid-19 Varian Omicron, Tampak Lebih Banyak Mutasi daripada Delta

Global
Swiss Gelar Referendum Usai Muncul Varian Omicron, Rakyat Setuju Pemakaian 'Covid Pass'

Swiss Gelar Referendum Usai Muncul Varian Omicron, Rakyat Setuju Pemakaian "Covid Pass"

Global
Tangani Covid-19 Varian Omicron, Inggris Perketat Prokes dan Pembatasan

Tangani Covid-19 Varian Omicron, Inggris Perketat Prokes dan Pembatasan

Global
Inggris dan Israel Buat Pakta Pertahanan, Berkomitmen Cegah Iran Peroleh Senjata Nuklir

Inggris dan Israel Buat Pakta Pertahanan, Berkomitmen Cegah Iran Peroleh Senjata Nuklir

Global
Inggris Minta G7 Rapat Darurat untuk Bahas Covid-19 Varian Omicron

Inggris Minta G7 Rapat Darurat untuk Bahas Covid-19 Varian Omicron

Global
WHO: Terlalu Dini Memahami Keparahan Varian Omicron, Begini Respons Sejumlah Negara

WHO: Terlalu Dini Memahami Keparahan Varian Omicron, Begini Respons Sejumlah Negara

Global
Seorang Wanita di Australia Didakwa Bakar Hotel Karantina Covid-19

Seorang Wanita di Australia Didakwa Bakar Hotel Karantina Covid-19

Global
Presiden Afrika Selatan Serukan Cabut Larangan Perjalanan dari Negaranya Terkait Omicron

Presiden Afrika Selatan Serukan Cabut Larangan Perjalanan dari Negaranya Terkait Omicron

Global
China Kirim 27 Pesawat Tempur Masuk Zona Pertahanan Udara Taiwan

China Kirim 27 Pesawat Tempur Masuk Zona Pertahanan Udara Taiwan

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.