Kompas.com - 22/06/2020, 14:12 WIB
Presiden AS Donald Trump berbicara didampingi Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di zona demiliterisasi (DMZ) Korea, Minggu (30/6/2019). Kedatangan Trump ke zona demiliterisasi Korea awalnya diagendakan untuk pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, namun Presiden Moon mengatakan fokus akan lebih kepada pertemuan Trump dengan Kim Jong Un. AFP/BRENDAN SMIALOWSKIPresiden AS Donald Trump berbicara didampingi Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di zona demiliterisasi (DMZ) Korea, Minggu (30/6/2019). Kedatangan Trump ke zona demiliterisasi Korea awalnya diagendakan untuk pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, namun Presiden Moon mengatakan fokus akan lebih kepada pertemuan Trump dengan Kim Jong Un.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menertawakan Presiden AS Donald Trump ketika mengomentari relasi pribadi mereka.

Pernyataan itu disampaikan mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, jelang perilisan bukunya yang membuat geram sang presiden.

Dalam wawancara dengan ABC News, Bolton ditanya jurnalis Martha Raddatz apakah Trump sungguh memercayai bahwa Kim Jong Un menyukai dirinya.

Baca juga: Bangga Kampanyenya Dihadiri 1 Juta Orang, Ternyata Trump Kena Prank Penggemar K-Pop dan TikTok

Penasihat yang dipecat pada September 2019 itu menjawab, dia tidak melihat sang Pemimpin Korea Utara benar-benar serius dengan relasi itu.

"Saya kira Kim Jong Un tertawa mendengarnya. Surat itu, yang ditunjukkan presiden, ditulis oleh pejabat di Partai Buruh Korut," jelas John Bolton.

Dia menyatakan, presiden 74 tahun itu menganggap surat yang diberikan oleh Pyongyang merupakan tanda persahabatan dalam mereka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir AFP Senin (22/6/2020), Bolton menganggap Trump tidak layak menjadi Presiden AS, dan berharap dia hanya menjabat selama satu periode.

"Saya berharap (sejarah) akan mengingatnya sebagai presiden satu periode yang tidak menjerumuskan negara terlalu dalam ke dalam pusaran yang bisa kita lupakan," paparnya.

Dia menuturkan pada Pilpres AS November nanti, dia tidak akan memilih baik mantan atasannya tersebut maupun rivalnya dari Demokrat, Joe Biden.

Gedung Putih sudah berusaha untuk menghentaikan buku itu. Tapi pada Sabtu (20/6/2020), hakim membatalkan gugatan itu karena menganggap sudah terlambat untuk menghalanginya.

Baca juga: Kampanye Trump Kena Prank Penggemar K-Pop dan TikTok, Ini Tanggapan Timses

Halaman:

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.