Virus Corona dan Novel-novel Fiksi Tentang Wabah Penyakit yang Ramalkan Situasi Sekarang

Kompas.com - 17/04/2020, 16:26 WIB
Novel karya Albert Camus berjudul The Plague, mengenai wabah yang membuat sebuah kota ditutup selama berbulan-bulan, sangat relevan dengan wabah virus corona di dunia saat ini. AFP/GETTY IMAGESNovel karya Albert Camus berjudul The Plague, mengenai wabah yang membuat sebuah kota ditutup selama berbulan-bulan, sangat relevan dengan wabah virus corona di dunia saat ini.

KOMPAS.com - Dalam masa ketidakpastian seperti sekarang, dan selagi kita mengurung diri di rumah untuk "meratakan kurva", buku bisa menemani sekaligus menghadirkan kelegaan dan rasa nyaman.

Di antara sekian banyak kategori buku, karya fiksi mengenai pandemi dapat menjadi pilihan. Jika diperhatikan saksama, sejumlah judul novel tampak seperti buku panduan untuk menghadapi situasi saat ini.

Sebagian di antaranya menghadirkan pemaparan kronologis yang realistis, mulai dari tanda-tanda awal, masa-masa terparah, hingga kembali ke 'normal'. Buku-buku novel tersebut menunjukkan bahwa umat manusia pernah melaluinya dan bertahan hidup.

Sebagai contoh, buku novel A Journal of the Plague Year karya Daniel Defoe yang dirilis 1722 lampau, menuturkan wabah penyakit pes di London pada 1665. Novel tersebut menampilkan rentetan peristiwa mengerikan yang membuat pembacanya dapat menyimak kekagetan pada masa awal wabah dan penyebaran virus baru.

Baca juga: Saat Lockdown, Pakar Konservasi Terkemuka Jane Goodall Berseru: Stop Perdagangan Hewan Liar

Defoe memulai ceritanya pada September 1664, ketika beredar rumor mengenai kembalinya 'wabah pes mematikan' di Belanda sampai kemudian muncul kematian pertama yang mencurigakan di London pada Desember.

Defoe menuturkan bahwa sejak kematian pertama itu, jumlah orang meninggal dunia terus meningkat sampai musim semi.

Pada Juli, sebagaimana dipaparkan dalam buku itu, Kota London memberlakukan serangkaian aturan baru, seperti pelarangan perayaan publik serta penutupan restoran dan tempat minum—serupa dengan di dunia nyata saat ini ketika wabah virus corona melanda.

Defoe menulis bahwa tidak ada "yang lebih fatal terhadap penduduk kota ini dari kelalaian warganya sendiri yang tidak memedulikan aturan" padahal mereka bisa berdiam di rumah. Defoe menambahkan, "saya melihat penduduk lainnya menaati aturan dan banyak yang hidup oleh karenanya".

Pada Agustus, Defoe menulis, wabah tersebut "sangat keji dan buruk". Dan pada awal September, kondisinya memburuk sehingga "seluruh keluarga, dan [rumah-rumah] di jalan-jalan yang penuh keluarga…tersapu semua".

Ketika Desember tiba, lanjut Defoe, "penyebaran melambat, dan cuaca musim dingin muncul dengan udara bersih serta dingin yang menusuk…sebagian besar mereka yang jatuh sakit telah pulih dan kesehatan kota mulai sembuh."

Baca juga: Saat Sirami Sayuran, Seorang Petani Terinjak Gajah dan Tewas

Halaman:
Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dari Kutub Utara hingga Mars, Para Wanita Ini Membuat Sejarah Selama Pandemi

Dari Kutub Utara hingga Mars, Para Wanita Ini Membuat Sejarah Selama Pandemi

Global
Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan Istrinya Positif Covid-19

Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan Istrinya Positif Covid-19

Global
Netizen Ramai Cemooh Kerajaan Inggris dengan Meme “The Firm” dan “The Institution” Usai Wawancara Harry-Meghan

Netizen Ramai Cemooh Kerajaan Inggris dengan Meme “The Firm” dan “The Institution” Usai Wawancara Harry-Meghan

Global
Sebut Makan Nasi Tak Boleh Pakai Tangan, Ahli Etiket Ini Ramai-ramai Diserang Netizen Asia

Sebut Makan Nasi Tak Boleh Pakai Tangan, Ahli Etiket Ini Ramai-ramai Diserang Netizen Asia

Global
Rusia Lancarkan Kampanye Menyesatkan Tentang Vaksin Covid-19 Selain Produksinya

Rusia Lancarkan Kampanye Menyesatkan Tentang Vaksin Covid-19 Selain Produksinya

Global
Tentara Myanmar Duduki Rumah Sakit dan Kampus, OHCHR: Sama Sekali Tak Dapat Diterima

Tentara Myanmar Duduki Rumah Sakit dan Kampus, OHCHR: Sama Sekali Tak Dapat Diterima

Global
Viral Video Pria Tendang dan Pukuli Mantan Istri di Jalan, Anak Jadi Alasan

Viral Video Pria Tendang dan Pukuli Mantan Istri di Jalan, Anak Jadi Alasan

Global
Saat Klakson Telolet Berujung Denda Rp 7 Juta dan Kurungan Penjara...

Saat Klakson Telolet Berujung Denda Rp 7 Juta dan Kurungan Penjara...

Global
Pangeran Harry dan Meghan Markle Dianggap Sudah Jatuhkan Bom ke Kerajaan Inggris

Pangeran Harry dan Meghan Markle Dianggap Sudah Jatuhkan Bom ke Kerajaan Inggris

Global
Referendum IE-CEPA Lolos di Swiss, Diharap Bisa Percepat Pemulihan Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi

Referendum IE-CEPA Lolos di Swiss, Diharap Bisa Percepat Pemulihan Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi

Global
Ingin Bunuh Diri Saat Hamil, Meghan: Kerajaan Khawatir Kulit Archie Gelap

Ingin Bunuh Diri Saat Hamil, Meghan: Kerajaan Khawatir Kulit Archie Gelap

Global
Mantan Istri Bos Amazon Dikabarkan Menikah dengan Guru Sains

Mantan Istri Bos Amazon Dikabarkan Menikah dengan Guru Sains

Global
Hasil Referendum Swiss Putuskan Larangan Pemakaian Burkak

Hasil Referendum Swiss Putuskan Larangan Pemakaian Burkak

Global
Bangun Situation Room Seperti Milik Gedung Putih AS, Inggris Gelontorkan Rp 184 miliar

Bangun Situation Room Seperti Milik Gedung Putih AS, Inggris Gelontorkan Rp 184 miliar

Global
Pamer Kekuatan ke Iran, Pesawat Pengebom B-52 AS Diapit Jet Tempur Israel

Pamer Kekuatan ke Iran, Pesawat Pengebom B-52 AS Diapit Jet Tempur Israel

Global
komentar
Close Ads X