Sagu Jadi Pakan Ternak, Beri Dampak pada Ketahanan Pangan Manusia

Kompas.com - 21/10/2020, 22:09 WIB
Ilustrasi petani mengolah sagu di tepi sungai di desa Sawai, Maluku Shutterstock/Riana AmbarsariIlustrasi petani mengolah sagu di tepi sungai di desa Sawai, Maluku


KOMPAS.com – Tak hanya bisa dimanfaatkan sebagai pangan manusia saja, sagu juga bisa digunakan sebagai pakan ternak alternatif.

Pemanfaatkan sagu sebagai pakan ternak saat ini telah dilakukan Tengku Rivanda Anshori, pendamping petani sagu yang berbasis di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Baca juga: Potensi Sagu Sebagai Ketahanan Energi, Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

“Di Meranti mereka pelihara ayam, bebek, kambing, sapi, babi, itu dibelah saja batang sagunya terus dimakan sama ayam, kambing, sapi. Ternak di sana luar biasa gemuk dan sehat,” kata Tengku dalam sesi talkshow “ Sagu Pangan Sehat untuk Indonesia Maju” Pekan Sagu Nusantara, Selasa (20/10/2020).

Ketika dilakukan analisa laboratorium, ternyata kandungan energi yang terdapat dalam sagu mencapai 3.676 kkal per kilogram. Lebih tinggi dari jagung yang juga pakan ternak, dengan tingkat energi 3300 kkal per kilogram.

Dengan memanfaatkan sagu menjadi pakan ternak, bisa membuat ternak jadi punya kualitas lebih baik. Dengan begitu, dagingnya lebih banyak dan kandungan protein lebih tinggi.

Tak itu saja, harga sagu pun relatif lebih murah daripada sumber pangan lain untuk jadi pakan ternak.

Menurut Tengku, seorang peternak ayam broiler bisa menghemat sampai dengan 30 persen biaya pakan jika menggunakan sagu bukannya pakan produksi pabrik biasa.

Tengku Rivanda Anshori bersama produk Sapuring untuk pakan ternakDok. YouTube Pekan Sagu Nusantara Tengku Rivanda Anshori bersama produk Sapuring untuk pakan ternak

Dampaknya pada ketahanan pangan manusia

Ternyata menjadikan sagu sebagai sumber pakan ternak juga akan berdampak pada ketahanan pangan manusia, tak hanya pada hewan ternak saja.

Baca juga: Produktivitas Sagu Masih Rendah, Kementan Tata dan Perluas Lahan Sagu

Tengku menjelaskan bahwa di Kabupaten Meranti, harga sumber protein seperti daging dan telur cenderung mahal.

“Di daerah kepulauan pabrik pakan itu adanya di pulau besar. Di Sumatera dan Jawa. Di kepulauan ini tidak ada. Padahal konsumsi daging dan telur itu tinggi juga,” tutur Tengku.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X