Kompas.com - 27/06/2022, 11:29 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SAAT ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenristek) sedang mengadakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP). Saya berkesempatan mengikutinya. Lama pendidikan enam bulan, berisi pembelajaran berkonsep andragogi dan diselenggarakan secara virtual dan tatap muka (lokakarya sebulan sekali).

Perekrutan peserta PGP melalui beberapa tahap.  Pertama pengiriman curiculum vitae (CV) dan penulisan esai (melalui portal Sistem Informasi Manajemen untuk Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan atau biasa disebut SIMPKB). Tahap kedua tes wawancara dan praktik mengajar, ketiga mengikuti PGP selama enam bulan.

Baca juga: Kemendikbud: 8.105 Guru Jalani Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5

Saya baru mulai mencicipi program guru penggerak, baru masuk pada perekrutan Calon Guru Penggerak (CGP) tahap tiga. Saat ini saya tepatnya masuk tahap pembelajaran modul dua (dari keseluruhan 10 modul). Proses PGP yang ikuti ini jeda untuk waktu yang belum ditentukan karena adanya peralihan dari P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) menjadi Balai Guru Penggerak.

Persiapan

Di awal seleksi, yang saya siapkan adalah CV dan beberapa surat rekomendasi dari kepala sekolah. Keduanya dalam bentuk softcopy dan dikirimkan lewat aplikasi SIMPKB. Selanjutnya mengisi esai yang juga dilakukan di aplikasi itu.

Pengisian esai butuh refleksi dan kemampuan mengingat beberapa kegiatan atau kejadian yang pernah CGP hadapi. Menurut saya tidak sulit, hanya perlu menuangkannya secara runtut dan jelas.

Jika lolos, selanjutnya masuk ke tahap kedua, yaitu tes wawancara dan simulasi mengajar (keduanya secara online).  Tes simulasi mengajar saya pada siang hari (sekitar jam 13.00 WIB). Saya beruntung, saya ada di sekolah. Saya bisa lebih fokus dan jaringan internet lebih stabil. Saat pelaksanaan, jaringan internet tidak bermasalah.

Sebelum mulai tes simulasi mengajar, saya mempersiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). RPP itu sebelumnya diunggah di aplikasi SIM Guru Berbagi.

RPP dibuat untuk 10 menit mengajar. Saya harus menampilkan kegiatan seperti urutan pembelajaran yang semestinya walaupun konten bisa saya kemas sedemikian rupa karena ketersediaan waktu yang hanya 10 menit. Akhirnya tes simulasi mengajar dapat saya lalui. Di akhir sesi saya diberi beberapa pertanyaan yang harus saya jawab.

Tiba saatnya tes wawancara. Saya kawatir karena tes ini dilakukan hari Sabtu di rumah. Hari Sabtu sekolah tutup. Kekawatiran saya adalah soal jaringan internet yang kemungkinan tidak stabil. Saat memulai tes wawancara, saya masuk ke Google Meet, prosesnya sangat sulit, tidak segera bisa masuk.

Ternyata, yang bermasalah bukan koneksi internet saya tetapi aplikasi SIMPKB. Lega rasanya. Pada tes wawancara diberi pertanyaan yang hampir mirip dengan pertanyaan di pengisian esai.

Saya agak kesulitan menjawab rincian soal pelatihan-pelatihan yang pernah saya alami, berkaitan dengan tanggal dan detail materi dan jumlah jam pelatihan. 

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.