Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 28/01/2022, 14:00 WIB
Sandra Desi Caesaria,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Photoaging merupakan kondisi kulit yang mengalami penuaan dini dan bisa dialami oleh siapa saja. Hal ini, bisa terjadi pada kulit wanita atau pun pria, muda atau pun tua karena paparan radiasi dari matahari, yaitu sinar UV A dan UVB.

Jika kulit terbiasa terkena paparan radiasi matahari tanpa pelindung, tentu membuat kulit akan semakin terlihat tua.

Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, mengatakan salah satu dampak dari photoaging adalah radikal bebas.

Ia mengatakan, radikal bebas merupakan peran sentral penyebab terjadinya photoaging baik dalam konteks molekuler maupun seluler jaringan sampai pada karakteristik kulit yang bisa kita lihat dengan kasat mata ataupun dengan berbagai alat.

Baca juga: 5 Alasan Pasangan Selingkuh, Ini Penjelasan Sosiolog Unair

Jika dibiarkan, photoaging berpotensi skin cancer atau kanker kulit dan cosmecceutical problem.

“Dengan adanya matahari justru menghambat antioksidan dan antioksidan tidak bisa menghambat radikal bebas, dan terjadilah photoaging," jelasnya, dilansir dari laman Unair saat mengisi Ngobrol Santai dengan Ahlinya (NGOBRAS) dengan tema peran Conditioned Medium Stem Cell pada Dermatologi.

Photoaging sendiri treatmentnya berbagai macam. Namun harus ada pertimbangan antara efikasi dan biayanya. "Ini masih cukup mahal sehingga banyak yang mengabaikan padahal photoaging berpotensi skin cancer dan cosmecceutical problem,” jelasnya.

Salah satu treatmentnya, adalah menggunakan Mesenchymal Stem Cell (MSC). Istilah ini, adalah sel punca atau sel yang terus melakukan regenerasi.

Stem cell sendiri memiliki berbagai manfaat termasuk memodulasikan sistem imun dan meningkatkan berbagai growth factor.

Baca juga: Peneliti IPB Temukan Obat Herbal Penurun Asam Urat

Prof. Cita juga mengatakan selain MSC, ada Mesenchymal Stem Cell-Conditioned Mediaum (MSC-CM). MSC-CM adalah Stem Cell yang setelah dikultur, tidak ada sel. 

Untuk MSC CM lebih dipilih dari pada MSC sendiri. Hal ini karena MSC-CM memiliki keuntungan dibandingkan MSC seperti bisa disimpan, didistribusikan, dan bisa digunakan oleh orang lain.

“MSC harus dari diri sendiri. Misalnya saya pakai sensor saya kemudian yang lainnya juga begitu, ada keterbatasan lain juga yaitu harus memiliki labolatorium yang terstandar dan tingkat kesulitannya juga tinggi,” ucap Prof Cita.

Kalau dibandingkan dengan Stem Cell pasti efikasinya lebih kuat namun MSC-CM memiliki keuntungan seperti bisa disimpan, didistribusikan, dan digunakan oleh orang lain karena tidak ada sel di dalamnya. 

Ia juga menjelaskan apa saja keuntungan penggunaan MSC-CM dibandingkan dengan Stem Cell.

Kapasitas Stem Cell tentunya lebih tinggi dibandingkan MSC-CM, namun prosenya masih mahal dan tidak bisa dibawa secara mudah, harus dengan kondisi khusus.

Baca juga: BCA Buka Magang Bakti 1 Tahun untuk Lulusan SMA-SMK, D3 dan S1

Sementara MSC-CM tidak ada potential rejection, transportnya mudah, dan harganya lebih terjangkau.

“MSC-CM untuk protokolnya sama dengan Stem Cell tetapi tidak ada potential rejection karena dia digunakan untuk orang lain dan tidak ada sel di situ, transportnya mudah dan tentu harganya jauh kalau dibandingkan dengan Stem Cell"kata Prof. cita.

Sehingga, apabila produksi secara besar-besaran tentu harganya bisa lebih ditekan untuk para konsumen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com