Kompas.com - 31/12/2021, 18:10 WIB
Hewan ternak milik warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Dusun Kajar Kuning, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12/2021). Hewan ternak milik warga terdampak erupsi Gunung Semeru, seperti kambing, sapi, kerbau, dan lainnya, akan dikembalikan kepada para pemiliknya setelah masa tanggap darurat dianggap selesai dan status Gunung Semeru sudah dinyatakan aman. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGHewan ternak milik warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Dusun Kajar Kuning, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12/2021). Hewan ternak milik warga terdampak erupsi Gunung Semeru, seperti kambing, sapi, kerbau, dan lainnya, akan dikembalikan kepada para pemiliknya setelah masa tanggap darurat dianggap selesai dan status Gunung Semeru sudah dinyatakan aman.
|

KOMPAS.com - Dampak yang ditimbulkan akibat bencana ada dua, yakni sosial dan ekonomi. Tentu, dampak tersebut adalah kerusakan (total atau sebagian) dari aset fisik.

Serta perubahan yang terjadi pada suatu sistem aliran ekonomi pada wilayah yang terdampak dari bencana tersebut.

Terkait dengan kejadian bencana erupsi Gunung Semeru, mahasiswa IPB University melakukan praktikum yang merespon kebutuhan analisis terkini.

Baca juga: Mahasiswa Indonesia di Sudan Gelar Baksos Meski Situasi Ibu Kota Tak Stabil

Dalam analisisnya, Budi Harsoyo menunjukkan bahwa total nilai kerusakan dan kerugian akibat erupsi Gunung Semeru mencapai Rp 308 miliar.

Analisa tersebut dihitung dengan memperhitungkan nilai manfaat lahan berdasarkan fungsi seperti pemukiman, persawahan, perkebunan dan sosial-ekonomi.

Menurut Yon Sugiarto, apabila fungsi jasa layanan ekosistem seperti hutan dan sumberdaya air ditambahkan maka potensi nilai kerugian yang dicapai bisa melebihi Rp 500 miliar.

Peserta praktikum lainnya, Marjuki mengemukakan bahwa ketersediaan data dan pendekatanan analisis memengaruhi rasionalitas dari penilaian yang dilakukan.

"Suplai dan akses informasi serta data menjadi faktor kunci dalam melakukan analisis cepat untuk menyusun kebutuhan pada masa kedaruratan maupun rehabilitasi dan rekonstruksi," ujar Marjuki dilansir dari laman IPB, Jumat (31/12/2021).

Baca juga: Mahasiswa, Ini Cara Budidaya Ikan Lele yang Baik

Sementara itu, dosen pengajar mata kuliah pengelolaan risiko iklim, Perdinan, PhD MNRE., perlu ada mekanisme nyata pemanfaatan science di ruang akademik yang dapat menjawab kebutuhan praktis terutama mengenai penilaian cepat.

"Ini menjadi suatu kebaharuan dimana praktikum mahasiswa dilakukan dengan memanfaatkan dan mensitesis fenomena yang terjadi terkini," tambahnya.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.