Kompas.com - 22/11/2021, 18:48 WIB
Nirina Zubir dan keluarga menjalani jumpa pers menjadi korban mafia tanah di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (17/11/2021). KOMPAS.com/Revi C RantungNirina Zubir dan keluarga menjalani jumpa pers menjadi korban mafia tanah di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (17/11/2021).
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Berbagai kasus mafia tanah mulai bermunculan di tanah air. Kasus terakhir, yakni menimpa publik figur Nirina Zubir.

Sebanyak enam aset berupa tanah dan bangunan dengan nilai mencapai Rp 17 miliar milik ibu kandung Nirina Zubir, yakni Cut Indria Marzuki dicaplok oleh mafia tanah.

Baca juga: Epideomiolog UGM: 80 Persen Penduduk Telah Kena Varian Delta

Menurut Pakar Hukum Tanah sekaligus Guru Besar Fakultas Hukum UGM Prof. Nurhasan Ismail, adanya kesan jaringan mafia tanah ini wajar, sah, dan legal di mata publik, karena pelaksanaan kinerjanya ditandai dengan hal.

Yakni, melibatkan simbol-simbol pelaksana hukum, seperti oknum Notaris PPAT dan Aparat Sipil Negara (ASN) dari lingkungan Badan Pertanahan Nasional, beserta jajarannya ke bawah serta penegak hukum, seperti oknum hakim.

"Oknum pelaksana dan penegak hukum yang dimaksud dapat berkedudukan sebagai bagian dari jaringan kinerja mafia tanah atau mereka hanya menjadi korban dari kinerja mafia tanah," ucap dia melansir laman UGM, Senin (22/11/2021).

Selain itu, mafia tanah juga mampu mencari celah dari peraturan perundang-undangan bidang pertanahan serta informasi terkait dengan administrasi pemberian hak atas tanah dan sertifikasi hak atas tanah yang pernah diterbitkan.

Kemudian mafia tanah memiliki kemampuan mendapatkan alat bukti kepemilikan tanah dan mengidentifikasi tanah-tanah yang ditinggalkan dan dibiarkan tidak termanfaatkan oleh pemegang haknya.

Adanya beberapa sumber administrasi pertanahan yang belum terintegrasi, kata Nurhasan, merupakan peluang bagi mafia tanah untuk melaksanakan jaringan kinerja ilegalnya melalui penggunaan berbagai alat bukti dari sumber administrasi yang berbeda-beda.

"Dan juga belum tunggalnya atau masih pluralnya tanda bukti hak membuka peluang masuknya jaringan mafia tanah dengan memanfaatkan keberadaan berbagai bentuk tanda bukti hak yang ada," tegas dia.

Begitu pula belum tunggalnya tanda bukti hak, itu karena belum selesainya proses pendaftaran tanah di seluruh Indonesia, sehingga masih dibuka penggunaan tanda bukti hak atas tanah yang ada sebelum UUPA.

Baca juga: Luhut Ajak Unpad Siapkan Ahli Teknologi Mineral di Indonesia

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.