Memastikan Tidak Terjadi (Lagi) Kekerasan Saat Belajar dari Rumah

Kompas.com - 20/09/2020, 18:02 WIB
Ilustrasi belajar di rumah bersama anak. ShutterstockIlustrasi belajar di rumah bersama anak.

Oleh: Isnaini | Guru SMPN 3 Kisaran, Asahan, Sumatera Utara

KOMPAS.com - Mendampingi anak belajar dari rumah (BDR) selama pembelajaran jarak jauh ternyata bukan perkara mudah. Banyak persoalan muncul dari kebiasaan baru ini; orangtua yang panik hingga marah-marah saat mendampingi anak belajar dari rumah.

Tak jarang tanpa disadari orangtua melukai perasaan dan fisik anaknya karena frustasi dengan perilaku anak saat belajar dari rumah. Tragisnya, ada berita menyedihkan orangtua membunuh anak lantaran tak sabar mendampingi anak belajar.

Tujuan dilaksanakannya belajar dari rumah, sesungguhnya agar siswa tetap mendapatkan layanan pendidikan selama pandemi. Selain untuk mencegah penyebaran dan penularan Covid-19, kegiatan ini juga untuk memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi guru, siswa, dan orangtua.

Lalu mengapa kekerasan orangtua saat mendampingi anak belajar dari rumah terjadi?

Baca juga: 7 Tips Peran Penting Sekolah Hindari Kekerasan saat Belajar di Rumah

Tantangan dampingi BDR

Untuk mengatasi kekerasan terjadi pada anak, kita harus menelusuri latarbelakang strategi orangtua dan guru dalam melaksanakan belajar dari rumah ini.

Bagi para orangtua mendampingi anak belajar di rumah memang hal yang tidak gampang. Apalagi orangtua yangmemiliki banyak kesibukan.

Banyak orangtua juga tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman cara mendampingi anak belajar. Kegiatan belajar dari rumah pada masa pandemi, menjadi sesuatu yang melelahkan dan rumit.

Namun, mau tidak mau, suka tidak suka kita harus beradaptasi dengan kondisi ini. Untuk itu guru dan orangtua harus menemukan strategi yang tepat agar anak nyaman dan tidak merasa tertekan.

Guru juga harus merancang kegiatan belajar dari rumah yang menyenangkan. Kembangkan lembar kerja siswa yang tidak terlalu membebani para siswa, tetapi tujuan pembelajaran tercapai.

Bangun komunikasi terbuka

Intensitas komunikasi guru, orantua, dan siswa saat belajar dari rumah harus lebih aktif dan terbuka guru juga perlu mengetahui kondisi dan masalah dihadapi orangtua.

Sampaikan rencana guru dalam memfasilitasi anak yang akan belajar dari rumah. Minta orangtua menyampaikan pendapat dan masukannya untuk perbaikan kegiatan belajar dari rumah untuk anak.

Keluhan-keluhan para orangtua harus ditampung dan dicari solusinya agar orangtua merasa nyaman dan bersemangat. Penekanan-penekanan yang keras kepada siswa dari guru untuk menuntaskan pembelajaran haruslah dihindari.

Ciptakan kesepakatan dengan orantua dalam mendampingi anak. Guru juga harus memperbarui cara memberikan pembelajaran dari rumah, sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dapat dijangkau orangtua dan siswa.

Gunakan WhatsApp grup orangtua atau pertemuan terbatas dengan orangtua bagi yang tidak bisa mengakses internet. Berikan umpan balik kepada siswa dan orangtua dari hasil belajar dari rumah sehingga semua bisa mengetahui perkembangan belajar anak.

Kenali karakter anak

Para guru dan orangtua wajib mengetahui karakter anak. Dengan mengetahui karakternya, kita bisa menentukan strategi yang tepat agar anak tetap semangat belajar dari rumah.

Contoh, anak yang motivasi belajarnya rendah, tentu kita tidak bisa memaksa anak mau belajar. Ciptakan kesepakatan waktu belajar dengan anak. Bangun kedisiplinan melalui penegakan kesepakatan bersama.

Belajar bukan hanya melulu persoalan harus memahami materi pelajaran. Belajar juga sebagai bentuk pelatihan untuk membentuk pembiasaan dan karakter anak.

Jika anak sudah mengerjakan sesuai dengan kemampuannya, orang tua harus menerima. Yang penting anak sudah bertanggung jawab dengan tugas yang harus dilaksanakannya.

Hindari membandingkan Anak

Sikap orangtua yang kadang membandingkan kemampuan anak dengan anak lainnya, bisa memicu timbulnya stres pada anak dan orangtuanya sendiri.

Kita harus yakin setiap anak sudah dibekali dengan bakat dan kecerdasannya tersendiri.

Lebih baik sampaikan apa yang perlu diperbaiki oleh anak. Ketika anak tidak berhasil menyelesaikan target belajarnya, maka bimbing dan semangati mereka untuk menjadi lebih baik.

Berbagi tugas dengan anggota keluarga

Tugas mendampingi anak belajar adalah tugas kedua orangtua. Untuk memudahkan dan meringankan tugas mendampingi anak belajar di rumah, orangtua dapat berbagi jadwal.

Misalnya, ibu mendapat jadwal pagi dalam mendampingi anaknya, kemudian ayah mendapat jadwal malam hari.

Yang penting dikondisikan masing-masing oleh para orangtua agar tercipta kenyamanan dalam mendampingi anak saat belajar dari rumah.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X