Erupsi Gunung Semeru, Pemerintah Tak Punya Alarm Peringatan Dini?

Kompas.com - 05/12/2021, 08:47 WIB
Warga mengamati sapinya yang mati akibat tertimbun abu vulkanik dari guguran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumber Wuluh, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). Dampak guguran awan panas Gunung Semeru mengakibatkan sedikitnya puluhan rumah warga rusak dan diperkirakan belasan warga dinyatakan hilang. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa. Zabur KaruruWarga mengamati sapinya yang mati akibat tertimbun abu vulkanik dari guguran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumber Wuluh, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). Dampak guguran awan panas Gunung Semeru mengakibatkan sedikitnya puluhan rumah warga rusak dan diperkirakan belasan warga dinyatakan hilang. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.

KOMPAS.com - Erupsi Gunung Api Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021) sore berdampak sedikitnya di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro.

Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Lumajang merupakan kawasan yang paling terdampak.

Dikutip dari Tribun Madura, Minggu (5/12/2021), hingga kini jumah korban yang mengalami luka bakar mencapai 38 orang.

Sementara itu seorang janda, Mak Um (50) dilaporkan meninggal dunia akibat terkena Awan Panas Guguran (APG) Semeru.

Peristiwa Gunung Semeru meletus ini lantas mengundang pertanyaan, mengapa tak ada peringatan dini sehingga korban bencana alam dapat diminimalisir?

Baca juga: Status Gunung Semeru Level II, BNPB Imbau Warga Lakukan 4 Hal Ini

Tak ada alat peringatan dini atau Early Warning System

Pemerintah dinilai kurang siap mengantisipasi bencana alam di Kabupaten Lumajang.

Hal ini terlihat dari tak adanya Early Warning System (EWS) di Desa Curah Kobokan selama ini.

Padahal alat itu penting untuk mendeteksi peringatan dini bencana.

"Alarm (EWS) gak ada, hanya sismometer di daerah Dusun Kamar A. Itu untuk memantau pergerakan air dari atas agar bisa disampaikan ke penambang di bawah," kata Kepala Bidang kedaruratan dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Joko Sambang.

Joko mengatakan, sebelum bencana itu menghantam, alat seismoter tersebut membaca getaran kenaikan debit air mencapai 24 amak.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.