Kompas.com - 28/09/2021, 15:00 WIB
Ilustrasi menyusui. SHUTTERSTOCKIlustrasi menyusui.

KOMPAS.com - Sebuah studi mengungkapkan bahwa perempuan menyusui yang telah terinfeksi Covid-19 terus mengeluarkan antibodi penetral virus dalam ASI hingga 10 bulan.

Antibodi ini dapat digunakan untuk mengobati orang dengan Covid-19 yang parah dan mencegah kondisi menjadi lebih buruk.

Meskipun anak-anak berisiko lebih kecil terkena Covid-19 yang parah, sekitar satu dari 10 bayi di bawah usia satu tahun akan memerlukan perawatan rumah sakit yang signifikan jika terinfeksi corona.

“Mengetahui apakah ada antibodi dalam ASI, berapa lama mereka akan melindungi setelah terinfeksi, atau vaksin mana yang akan memberikan bayi perlindungan antibodi terbaik, menjadi informasi yang sangat penting dan sangat membantu, relevan untuk waktu yang lama,” ujar pemimpin penelitian Dr Rebecca Powell di rumah sakit Mount Sinai, New York seperti dilansir dari The Guardian, Selasa (28/9/2021).

Baca juga: Studi: Orang Tak Divaksinasi 11 Kali Lebih Mungkin Meninggal akibat Covid-19

Antibodi Covid-19 dalam ASI

Dijelaskan, antibodi dalam ASI sedikit berbeda dengan antibodi Imunoglobulin G (IgG), yang mendominasi dalam darah dan dipicu oleh vaksinasi, meskipun beberapa di antaranya juga disekresikan ke dalam ASI.

Antibodi utamanya yaitu secretory Immunoglobulin A (IgA), yang menempel pada lapisan saluran pernapasan dan usus bayi, membantu menghalangi virus dan bakteri memasuki tubuh.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski sebelumnya para peneliti telah mendeteksi antibodi terhadap SARS-CoV-2 dalam ASI, tidak jelas kemampuan antibodi ini dapat menetralisir virus atau jangka waktu perempuan terus memproduksinya setelah terpapar corona.

88 persen mengandung antibodi IgA

Studi dilakukan dengan mengambil sampel ASI dari 75 perempuan yang sudah sembuh dari Covid-19.

Ditemukan, sebesar 88 persen di antaranya mengandung antibodi IgA, yang dalam kebanyakan kasus mampu menetralkan virus corona, dengan artian mampu memblokir infeksi.

Penelitian lebih lanjut mengungkapkan, perempuan terus mengeluarkan antibodi tersebut hingga 10 bulan.

“Artinya, jika terus menyusui, masih memberikan antibodi itu dalam ASI,” ujar Powell.

Baca juga: Studi: Konsumsi Kopi dan Sayuran Menurunkan Risiko terhadap Covid-19

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.