Kilas Balik 9 Bulan Pandemi Covid-19 dan Dampaknya bagi Indonesia

Kompas.com - 03/12/2020, 06:30 WIB
Pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi virus corona atau COVID-19 di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Depok, Jawa Barat, Jumar (3/4/2020). Mural tersebut ditujukan sebagai bentuk dukungan kepada tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/prasPengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi virus corona atau COVID-19 di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Depok, Jawa Barat, Jumar (3/4/2020). Mural tersebut ditujukan sebagai bentuk dukungan kepada tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi COVID-19 di Indonesia.

KOMPAS.com - Sembilan bulan lalu, tepatnya pada 2 Maret 2020, Indonesia melaporkan kasus pertama infeksi virus corona penyebab Covid-19.

Saat itu Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya kasus 1 dan kasus 2 Covid-19 yang teridentifikasi pada seorang perempuan berusia 31 tahun dan ibunya yang berusia 64 tahun.

Jokowi mengatakan, kasus 1 terinfeksi virus corona dari warga negara Jepang yang sempat melakukan perjalanan ke Indonesia. Kasus 1 kemudian menularkan virus itu kepada ibunya, kasus 2.

Baca juga: BREAKING NEWS: Jokowi Umumkan Dua Orang di Indonesia Positif Corona

Setelah pengumuman kasus pertama itu, Indonesia terus melaporkan kasus baru infeksi virus corona hingga sembilan bulan setelahnya.

Perkembangan Covid-19 selama 9 bulan

Sembilan bulan pandemi Covid-19 berjalan di Indonesia, belum ada tanda-tanda bahwa penularan bisa dikendalikan. Trennya bahkan masih mengalami kenaikkan. 

Berdasarkan data dari covid19.go.id hingga Rabu (2/12/2020) pukul 12.00 WIB, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 549.508 orang.

Dalam periode waktu yang sama, korban meninggal dunia akibat Covid-19 juga masih terus bertambah. Total kasus kematian akibat virus corona kini mencapai 17.199 orang, terhitung sejak awal pandemi.

Sementara itu, pasien Covid-19 yang telah dinyatakan kini totalnya mencapai 458.880 orang.

Baca juga: UPDATE: Tepat 9 Bulan Kasus Covid-19 RI Capai 549.508, Bertambah 5.533

Selain itu masih ada 73.429 orang yang berstatus kasus aktif Covid-19 di Indonesia. Mereka adalah pasien yang masih menjalani perawatan atau isolasi mandiri.

Dampak pandemi Covid-19 di Indonesia

Pandemi Covid-19 memberi dampak besar pada berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Untuk mencegah penularan semakin meluas, kegiatan yang berpotensi mempertemukan banyak orang dalam satu waktu yang sama kini dibatasi.

Kegiatan-kegiatan yang dibatasi antara lain, bersekolah, bekerja di kantor atau pabrik, menonton film di bioskop, dan menghadiri konser musik.

Banyaknya pasien Covid-19 yang memerlukan perawatan medis juga membuat dokter dan tenaga kesehatan lain mendapat beban kerja ekstra.

Di masa pandemi, para tenaga kesehatan adalah orang-orang yang berjuang di garda terdepan penanganan Covid-19.

Baca juga: Epidemiolog: Kasus Corona di Indonesia Masih Akan Terus Naik, Ini Alasannya

Berikut adalah dampak-dampak yang ditimbulkan selama sembilan bulan pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia:

1. Tingginya angka kematian dokter

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB ID) per 28 November 2020 pukul 00.00 WIB, terdapat 180 dokter di Indonesia yang gugur akibat pandemi Covid-19.

Dikutip dari Kompas.com, 31 Agustus 2020, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, terus bertambahnya dokter yang meninggal dunia akibat Covid-19 adalah kerugian besar bagi Indonesia.

Dia mengungkapkan, berdasarkan data Bank Dunia, jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk.

Baca juga: IDI Sebut Tak Kurang dari 180 Dokter Meninggal Selama Pandemi Covid-19

Selain itu, kehilangan ini juga merugikan Indonesia dalam hal investasi sumber daya manusia (SDM) di bidang kesehatan.

"Padahal kita sedang berperang maraton melawan Covid-19. Kehilangan tenaga medis adalah salah satu sinyal serius, yakni betapa masih lemahnya kita dalam program pengendalian pandemi," ungkap Dicky.

2. Pembelajaran jarak jauh

Sebagai upaya untuk mencegah penularan virus corona semakin meluas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengambil kebijakan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Namun, PJJ rupanya menghadirkan sejumlah permasalahan yang harus dihadapi, baik oleh tenaga pendidik maupun siswa, terutama terkait dengan infrastruktur.

Permasalah tersebut antara lain, ketersediaan listrik dan jaringan internet. Selain itu, tidak sedikit keluarga yang tidak memiliki gawai sebagai sarana untuk mengikuti PJJ.

Dikutip dari Kompas.com, 13 Juli 2020, pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai, PJJ tidak akan mungkin berjalan dengan baik.

"Sudah dapat dipastikan tidak akan bisa berjalan baik, omong kosong kalau ada pejabat Kemendikbud bilang PJJ dapat berjalan baik. Pasti asal jalan atau asal-asalan saja,"

Sementara itu, mengutip Harian Kompas, Senin, 13 Juli 2020, pembelajaran jarak jauh bagi para siswa tidak dapat terlaksana di daerah-daerah pelosok Indonesia.

Tercatat, ada lebih dari 47.000 satuan pendidikan yang tidak memiliki akses listrik serta internet.

Baca juga: Indonesia Resmi Resesi, Ini Bedanya dengan Krisis dan Depresi Ekonomi

3. Resesi ekonomi

Indonesia resmi mengalami resesi ekonomi yang ditandai dengan produk domestik bruto (PDB) RI pada kuartal III-2020 minus mencapai 3,49 persen (year on year/yoy).

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, seperti diberitakan Kompas.com, 5 November 2020.

“Dengan berbagai catatan peristiwa pada triwulan II-2020, ekonomi Indonesia kalau PDB atas dasar harga konstan kita bandingkan pada kuartal II-2019, maka ekonomi kontraksi 3,49 persen," kata Suhariyanto.

Dikutip dari Kompas.com, 20 Oktober 2020, dalam catatannya tentang setahun pemerintahan Jokowi-Maruf Amin, pengamat Ekonomi dari INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara mencatat, salah satu penyebab permasalahan ekonomi tahun ini adalah pandemi Covid-19.

Dia mengatakan, masih tingginya penularan Covid-19 membuat mobilitas masyarakat menjadi rendah, dan dengan demikian mengakibatkan kelesuan perekonomian.

Bhima mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional mengalami penurunan akibat terlambatnya respons penanganan Covid-19 yang dilakukan Pemerintah.

Sebagai perbandingan, Bhima menyebut, China yang merupakan negara asal pandemi, justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif, begitu pula dengan Vietnam.

"Vietnam juga tumbuh positif 0,3 persen karena adanya respons cepat pada pemutusan rantai pandemi, dengan lakukan lockdown dan merupakan negara pertama yang memutus penerbangan udara dengan China," kata Bhima.

Baca juga: INFOGRAFIK: Jadwal Terbaru Cuti Bersama dan Libur Akhir Tahun 2020


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X